Jembatan Putus, Aktivitas Belajar Terganggu

JUBI — Kondisi Jembatan penyebrangan yang menghubungkan Satuan Pemukiman (SP) III dan IV dengan SP I dan II, sangat menyulitkan para pelajar untuk bersekolah.

Kepala Kampung SP IV, Sukasno mengatakan, di SP III dan IV Distrik Yapsi, sejak dulu tidak pernah dibangun gedung sekolah untuk pelajar SLTP atau SLTA sampai sekarang. ”Jadi terpaksa puluhan anak SLTP dan SLTA di sini harus bersekolah di SP I satu II yang jaraknya sangat jauh,” ujarnya, di Jayapura, Minggu (30/10).

Jarak antara SP III dan SP IV sekitar 1 Km, sedangkan jarak antara kedua lokasi transmigrasi tersebut dengan SP I dan II, diperkirakan 5 Km. Selain dikejar oleh waktu, karena pukul 08.00 WIT harus masuk sekolah, merekapun harus berhadapan dengan kondisi jalan rusak dan jembatan penyeberangan sungai Nawa yang putus sejak beberapa tahun lalu.

Winarti, pelajar SMK SP I Yapsi mengatakan, guru-guru pada umumnya mengerti dengan kondisi ini. ”Kadang guru marah bila terlalu sering,” katanya.

Lain Winarti, lain Asep. Pelajar SLTP ini mengaku gurunya sering marah bila terlambat datang atau masuk kelas.

Menurut Slamet Winarto, Guru SLTP di SP II Distrik Yapsi, kondisi jalan dan jembatan yang rusak seharusnya bukan menjadi penghalang atau alasan untuk
terlambat datang ke sekolah.

“Justru kondisi yang memprihatinkan itu harus dijadikan motivasi untuk maju bukan malah menyerah,” ujarnya. (Marten)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *