DAP: Kembalikan Kedaulatan Papua!

JUBI — Dewan Adat Papua menyatakan, ada dua momen penting dalam Peringatan Hari Kemerdekaan Papua tahun 2010. Selain peringantan kelahiran bangsa Papua pada 1 Desember 1962, juga sebagai peringatan kedaulatan dan sejarah Papua. Karena DAP itu menegaskan, momen ini pantas dirayakan.

“Selama ini kedaulatan Papua diabaikan dan dianggap penting Negara. Manusia patut memperingati hari sejarahnya kecuali hanya hewan yang tidak bisa oleh karena itu perlu diperingatkan.” ujar Yeboisembut, kepada JUBI, Rabu, (1/12) di Sentani, Kabupaten Jayapura.

Forkorus lagi-lagi menegaskan soal satatus politik Papua. dia menandaskan,  Bangsa Papua sesungguhnya bukan bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia, karena secara historis Papua Barat bukan bagian dari Hindia Belanda. Jika dirunut kembali, kata kata Ketua DAP itu, bahwa  pada tanggal 24 Agustus 1828 di Lobo, Teluk Triton Kaimana di Pantai Selatan Papua, diproklamasikan kepemilikan Papua Barat oleh Komandan Pasukan Tentara Belanda atas nama Ratu Nederland, yang ditandai dengan Benteng Fort du Bus.

“Walaupun Papua Barat dan Indonesia merupakan jajahan Belanda, namun administrasi pemerintahan Papua Barat diurus secara terpisah,” ujarnya.

Selain itu pengakuan lain Papua sebagai sebuah Negara juga terungkap dalam pertemuan antara wakil Indonesia dan penguasa perang Jepang di Saigon pada tanggal 12 Agustus 1945.  

“Ketika itu, Mohammad Hatta secara tegas nyatakan bahwa Bangsa Papua adalah Ras Negroid, Rumpun Melanesia.  Maka bangsa Papua harus mengurus nasibnya sendiri. Sementara Ir. Soekarno mengklaim bahwa bangsa Papua masih primitif sehingga tidak perlu dikaitkan dengan kemerdekaan bangsa Indonesia.”

Pernyataan politik Forkus lainnya adalah soal Pelaksanaan Penentuan Pendapat rakyat (PEPERA) pada tahun 1969. Dia membeberkanPepera 1969 juga cacat hukum dan cacat moral karena tidak dilaksanakan sesuai ketentuan pasal XII ayat 1 dan pasal XVIII ayat d New York Agreement dan ketentuan hukum internasional. Dia mengatakan pada saat pelaksanaan Pepera dibawah tekanan, teror, dan intimidasi oleh militer Indonesia. Ia menyebut hasil sebagai bentuk pembohongan terhadap rakyat Papua Barat dan dunia internasional.

Peringatan kemerdekaan Papua pada tahun ini, DAP menggelar ibadah di Pemakaman Mantan Presidium Dewan Adat Papua (DAP) Almarhum Theys Hiyo Eluay di Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua. (Musa Abubar)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *