Masyarakat Merauke Tidak Boleh Jadi Penonton

JUBI— Bupati Merauke, Romanus Mbaraka menegaskan, masyarakat yang menghuni Bumi Anim Ha, tidak boleh menjadi penonton ketika ada investor yang hendak masuk. Luas lahan yang ada, mereka harus kelola secara sendiri-sendiri dengan dilengkapi peralatan seperti parang, sekop dan fasilitas pertanian lain yang mendukung.
Penegasan itu disampaikan Bupati Romanus ketika bertatap muka dengan para wartawan media cetak dan elektronik di ruang kerjanya, Sabtu (29/1). “Saya telah bertemu dengan Dirjen Infrastruktur Pertanian di Jakarta beberapa waktu lalu dan menyampaikan konsep jika akan dibangun bengkel kampung di setiap tempat,” katanya.
Jika bengkel sudah jalan, jelas Bupati Rimanus, diberikan Kubota traktor untuk bisa membajak areal persawahan 6-8  hektar. Disamping itu akan dibarengi dengan pemberian bantuan sapi dua ekor bagi para petani. Dari pada harus mendatangkan hand traktor dan ketika satu atau dua kali digunakan, langsung mengalami kerusakan. Alangkah lebih baik jika petani dibantu sapi  agar bisa membantu masuk ke sawah.
Bupati menambahkan, setelah  38 ribu hektar lahan  dioptimalkan dengan membangun bengkel dari dana Rp 1 milyar untuk tiap kampung, baru sisa lahan didorong dengan pendekatan investasi. Sehingga total sesuai dengan  desain dari pusat  1,2 juta hektar bisa dijalankan.
“Saya juga minta agar penguatan terhadap lembaga pertanian harus menjadi guru dan tidak terkesan membangun disana sini. Kita juga memfokuskan kepada para penyuluh. Untuk itu, mereka yang menjadi penyuluh, harus mati hidup bermasa para petani mendampingi mereka dalam melaksanakan aktivitas sehati-hari di sawah,” pintanya. (ans)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *