Polisi Alihkan Kasus Penembakan Nafri dan Kematian Wetipo

JUBI —  Gustaf Kawer, pengacara hukum Buchtar Tabuni, dan empat tahanan dan narapidana Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Klas II A Abepura yang sementara ini dititipkan di Polda Papua menyatakan, penetapan Buchtar sebagai terdakwa merupakan suatu proses pengalihan perhatian dari polisi terhadap pelaku penembakan Nafri dan kematian Miron Wetipo.

Sebagaimana diketahui, Miron Wetipo adalah salah satu warga binaan yang kabur bersama empat orang rekannya dari Lapas sejak Jumat, 3 Desember 2010 lalu. Wetipo tewas ditembak oleh TNI/Polisi dan Densus 88 Polda Papua yang melakukan penggeledahan dan penyisiran disebuah rumah warga di kawasan BTN Puskopad Abepura. Saat itu Miron dan empat rekannya berlari menuju kearah lokasi penggeledahan dan penyisiran tersebut.  

Kawer menegaskan, seharusnya aparat kepolisian memproses penembakan Miron. Lantaran dia bukan pelaku penembakan Nafri sehingga ditembak begitu saja tanpa alasan yang jelas. “Miron Wetipo bukan pelaku penembakan Nafri. Jadi harus diproses. Polisi harus proses dan cari pelaku insiden memilukan tersebut,” tegasnya kepada JUBI, Minggu (30/1).

Penembakan di wilayah Kampung Nafri, Jayapura, menewaskan seorang warga dan melukai empat lainnya. Riswandi Yunus (35) tertembak di leher kiri dan tewas seketika di tempat kejadian. Korban lainnya adalah Fernal Nongka (10), tertembak di dada kiri dan kanan, Alex Nongka (40) di lengan kanan bagian atas, dan Baharudin (49) serta Dian Novita di tangan kanan. Para korban dihadang diruas jalan Arso dan diberondong seketika menggunakan senjata laras panjang. Peristiwa itu terjadi sejak Minggu, 28 November 2010.

Kawer menambahkan, Lapas  Abepura dan Kementrian Hukum dan HAM juga harus bertanggung jawab atas kematian Wetipo. Karena dia merupakan seorang warga binaan yang ditembak diluar lokasi tahanan.

Dari Insiden Nafri dan Penembakan Miron, Jumat, 3 Desember 2010, tahanan dan narapidana di Lapas Abepura mengamuk setelah mendengar rekan mereka, Miron Wetipo tewas tertembak. Akibat dari amukan itu, lima orang diantaranya langsung dipindahkan sejak itu ke Polda demi dimintai keterangan lebih lanjut. Mereka adalah Buchtar Tabuni, Filep Karma, Lopez Karubaba, Dominggus Pulalo dan Eni Elopere. Hingga kini mereka masih mendekan dibalik terali besi tahanan Polda Papua. (Musa Abubar)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *