Warga Repatrian Masih Terlantar

JUBI — Saban hari kota Jayapura makin ramai. Pembangunan menjamur hampir di setiap sudut kota. Masyarakat juga makin majemuk. Sayangnya, di tengah situasi seperti ini masih ada warga Papua yang terlantar. Mereka adalah warga repatrian yang tengah November 2009 dipulangkan ke Papua dari Papua Nugini. Ironisnya mereka berkali-kali meminta bantuan kepada pemerintah provinsi Papua tapi belum ada tanggapan.

“Kami sudah bosan meminta bantuan pemerintah. Kami tidak tahu kemana kami meminta pertolongan lagi,” kata seorang warga repatrian, Martinus Asaribab, kepada JUBI, di Jayapura, Senin (31/1). Martinus mengaku hidupnya di Jayapura selalu berpindah-pindah dari satu keluarga ke keluarga yang lainnya.   Sebelumnya, ia tinggal di Kotaraja, APO Gudang, Kota Jayapura. Kini ia tinggal di Sentani, Jayapura.

Dia masih ingat,  dalam pertemuan dengan ratusan warga Papua yang tinggal di PNG (18/9/2009) gubernur Papua, Barnabas Suebu berjanji untuk menjamin kesejahteraan mereka, termasuk fasilitas rumah dan pendidikan bagi anak-anak mereka bila bersedia kembali ke Papua. Tetapi sampai saat ini ia masih menunggu.

Sedikitnya 20 KK (kepala keluarga)  yang kini menetap di Jayapura. Sementara yang lainnya menyebar ke setiap daerah tempat asal mereka di Papua.

“Yang di kampung-kampung mungkin sudah mendapat bantuan. Tapi kami yang di kota tidak ada, bahkan ada yang kabarnya sudah kembali ke PNG,” katanya lagi.
Tengah November 2009 mereka kembali ke tanah  Papua. Waktu itu sekitar 300 orang. Seminggu setelah itu mereka tinggal di penampungan di Balai Latihan Kerja (BLK), di Pantai Base-G, Distrik Jayapura Utara. Namun setelah itu mereka diminta ketua BLK untuk mencari keluarga terdekat di Jayapura. Sehinggaa ada 20 kepala keluarga (KK) yang menetap di Jayapura.

Sementara keluarga yang lainnya tersebar di daerah dan kampung asalnya masing-masing. Bapak enam anak ini menyesalkan pihak yang semestinya bertanggung jawab atas dirinya dan repatrian lain di Jayapura. “Kalau kondisinya masih seperti ini mungkin kami akam kembali lagi ke PNG,” kesalnya. (Timo Marten)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *