Keberadaan Sertifikat Tanah Di Areal Konservasi Dipertanyakan

JUBI — Munculnya sertifikat tanah yang dikeluarkan oleh Badan Pertanahan Nasional di areal Konservasi, dipertanyakan keberadaannya oleh pihak Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Papua, karena areal konservasi sudah menjadi seperti hutan lindung atau cagar alam dan tidak boleh dimiliki oleh orang ataupun bersertifikat.

Hal tersebut disampaikan Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Provinsi Papua, Drs. Ignn Suteja. MM, menyikapi munculnya sertifakt diareal kawasan tersebut. “Perlu adanya kerjasama, sehingga tidak melakukan hal-hal yang dilarang menurut aturan hukum di Negara ini, supaya kelestarian satwa dan alam Papua benar-benar terjaga,” ujar Drs. Ignn Suteja, di Jayapura, Senin (28/1).

Pihaknya, kata dia, telah beberapa kali menemukan kasus demikian dan selalu menempuh jalur hukum, misalnya lewat Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) untuk menyelesaikannya, agar jangan sampai terjadi persolan baru dikemudian hari. “Berharap sertifikat yang dikeluarkan BPN itu bisa dibatalkan pengadilan,” harapnya.

Dirinya berpesan, agar semua pihak terutama masyarakat ang bermukim disekitar areal hutan, untuk ikut menjaga stabilitas wilayahnya, dengan tidak melakukan perburuan dan menangkap hewan langka, serta penebangan secara liar. “Dalam kasus seperti itu, dimana ada sertifikat tanah bagi perorangan, padahal tanah itu dalam areal konservasi, biasanya diakibatkan kedua belah pihak sendiri tidak tahu kalau tanah itu termasuk daerah dilindungi,” akuinya.

Ditambahkan,  mungkin karena batas-batas areal konservasi yang mereka tidak tahu, atau memang adanya permainan. Sebaiknya perlu digunakan GPS dan langsung ada pengecekan lapangan oleh pihak terkait sebelum dikeluarkan sertifikat kepemilikan tanah. “Walau demikian, para petugas BKSDA selalu melakukan pengecekan rutin di areal konservasi dan memberikan pemahaman kepada warga yang beraktivitas disekitarnya,” tandasnya.

Sebelumnya Satuan Polisi Kehutanan (Polhut) Provinsi Papua berhasil mengamankan puluhan satwa langka yang siap di selundupkan keluar dari Papua, dari rumah salah seorang warga di kawasan Abepura, Jayapura, Rabu (16/2). Namun, puluhan satwa langka itu, telah dilepasliarkan didaerah Boroway, arah Genyem, daerah kabupaten Jayapura, puluhan satwa langka berupa burung Cenderawasih, Nuri, Kakatua, dan Kus-Kus itu, akan dilepasliarkan di areal hutan konservasi yang dianggap aman oleh tim, guna membiarkannya kembali ke habitatnya.

Selain itu, satwa langka yang berhasil diamankan satuan polisi kehutanan Jagawana tersebut, antara lain enam puluh dua ekor burung yakni Cenderawasih, Nuri, Kakatua, Perkutut, Kasuari, dan hewan mamalia jenis Kus-kus.   “Sudah merupakan salah satu kewajiban kami untuk melakukan hal itu. Demi kelestarian keanekaragaman satwa hayati kita dan kesimbangan ekosistim lingkungan,” jelasnya. (Eveerth Jomilena)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *