Pemerintah Dinilai Abaikan Penderita Kusta

JUBI — Penderita penyakit kusta atau dikenal dengan penyakit mati rasa terus meningkat tajam setiap tahun di Papua. Namun, sampai saat ini Pemerintah Papua terkesan mengabaikannya. Tak ada upaya kerja sama ataupun sosialisasi penanganannya seperti HIV/AIDS.

“Saya sudah keliling beberapa daerah terpencil di Papua untuk tangani penyakit kusta. Banyak sekali masyarakat yang mengidapnya, tapi tidak ada penanganan atau pengobatan dari rumah sakit atau puskesmas,” kata Arry Pongtiku saat dikonfirmasi JUBI di Abepura, Senin (28/2) siang.

Kata Arry, data yang diperoleh selama pengobatan dibeberapa daerah di Papua ditahun 2008  hingga 2009 tecatat 1500 kasus. “Setiap tahun 1500 kasus. Kasus ini terus bertambah tapi tidak ada upaya sosialisasi atau pengobatan dari Pemerintah. Saya sendiri juga tidak tau kenapa sampai bisa begitu,”  ujarnya.

Menurut dia, mestinya ada upaya sosialisasi penanganan atau badan yang dibentuk pemerintah, khusus untuk menangani penyakit ini, seperti yang dilakukan untuk menangani penyakit HIV/AIDS. Lantaran tak ada upaya, sejumlah warga tidak tahu menahu soal penyakit yang satu ini. Pengobatannya pun tak diketahui.

Ironisnya lagi, masyarakat mengklaim kusta merupakan penyakit keturunan yang diturunkan dari leluhurnya. “Banyak masyarakat yang memandang penyakit itu adalah penyakit keturunan. Jadi, tidak bisa diobati,” tandasnya.

Dr. dr. Arry Pongtiku mengungkapkan, harusnya ada upaya kerja sama yang dibangun untuk mendatangkan obat kusta. Pasalnya, obat kusta  susah didapat dirumah sakit atau apotik. Obat mati rasa ini hanya bisa didatangkan dari Negara Swiss dengan harga Rp. 2 juta per kemasan. “Obat ini hanya bisa didapat dari Swiss. Walau mahal tapi pengobatannya gratis,” tuturnya.

Pengobatan gratis  hanya bisa ditangani oleh Lembaga donator di Papua yang membeli. “Kami beli obat ini mahal. Tapi pemerintah tidak serius untuk tangani. Masyarakat juga anggap enteng dengan penyakit ini,” cetusnya.

Menurut catatan sejarah, kusta tengah ditemukan sebelum masehi atau ditahun 1841 – 1912 oleh ilmuwan G.H.A Hansen. Namun, pengobatannya baru dilakukan sejak tahun 1970 an. Sementara obantnya baru ditemukan di 1980 an. “Penyakit ini sudah lama ada tapi tidak ada upaya penanganan,” kesalnya.

Dirinya menegaskan, kedepan pemerintah dapat mengupayakan pengobatan dan penanganan secara rutin untuk Kusta. Sebab, penyakit ini mengancam nyawa para perempuan yang sedang mengandung. Jika perempuan yang bersangkutan mengidap Kusta, maka nyawanya anak dan ibunya teramcam. “Kemungkinan besar perempuan yang mengidap Kusta akan meninggal saat bersalin. Kalau bukan ibunya berarti anak yang dilahirkan yang meninggal,” tandasanya. (Musa Abubar)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *