Penderita Kusta Di Papua Capai 567 Kasus

JUBI — Ternyata di Papua ratusan warga mengidap penyakit kusta. Tiap tahun penderita penyakit mati rasa ini terus meningkat tajam. Di  tahun 2010 tercatat 567 kasus penderita diberbagai daerah di Papua.

Hal ini itu disampaikan Arry Pongtiku saat ditemui JUBI dalam sebuah pertemuan di Yoka, Abepura, Minggu (27/2) malam. Kata dia, penderita kusta banyak didapati di wilayah Mamberamo, Waropen, Nabire, dan Sarmi. “Beberapa daerah ini banyak penderita kusta. Di Jayapura juga banyak yang mengidap penyakit ini,” katanya.

Menurutnya, di tahun 2010 lalu, terdapat  67 kasus penderita kusta, dimasing-masing daerah itu yakni Mamberamo, Waropen, Nabire, dan Sarmi. “Tahun 2010 lalu, dari catatan kami ada 67 kasus penderita yang ditemui dimasing-masing daerah ini,” ujarnya.

Ditambahkan, untuk Kota Jayapura di tahun itu,  pihaknya mencatat penderita penyakit mati rasa ini sebanyak 500 kasus. “Penderita kusta di Jayapura yang paling tinggi dari daerah lain di Papua,” ungkapnya. Kata dia, jumlah total dari semua kasus itu, 567 kasus. Dokter spesialis penyakit kusta, TB, dan HIV/AIDS ini menjelaskan, penyakit kusta meningkat tajam tiap tahun. Penderita penyakit ini terus bertambah, baik di daerah perkotaan maupun di pedalaman Papua.

Dari data yang diperoleh JUBI, kusta berawal dari adanya bercak dikulit. Bercak itu berwarna putih mirip panu atau kemerahan (ada pula yang agak menebal), tetapi tidak gatal dan bila disentuh kurang terasa ataupun tidak terasa. Penderita kusta, daya tahan tubuhnya lemah. Kulit, saraf tepi atapun bagian tubuh lainnya yang terserang akan membut penderita menjadi cacat. Misalnya, kedua tangannya akan terlipat, menjadi kaku dan tidak bisa diluruskan lagi.

Kusta disebabkan oleh bakteri Mycobacterium. Bakteri ini biasanya menyerang bagian tubuh yang kering seperti telinga, tangan, kaki, muka, belakang dan pantat. Bagian tubuh yang terserang semuanya mati rasa. Bulu mata atau bulu kulit akan rontok satu persatu.

Penyakit ini juga menular namun tidak mudah dan cepat.Penularan kusta ke orang lain memerlukan waktu yang lama dan kontak/hubungan erat/dekat dengan penderita yang belum diobati. Penularan ke orang lain diduga bisa melalui pernapasan. Ada dua jenis kusta. Dua jenis ini membutuhkan masa pengobatan berbeda. Pertama kusta basa atau disingkat MB (Multi Basiler). Pengobatan untuk kusta basah membutuhkan waktu kurang lebih 12 bulan. Sementara kusta kering atau PB(Pausi Basiler)  membutuhkan pengobatan selama  6 bulan.

Obat kusta ada empat macam sesuai jenis atau tipe kusta dan umur penderita. Obat ini dikemas dalam kemasan (blister) untuk 28 hari. Kemasan blister berawarna merah peruntukkan untuk dewasa berumur 15 tahun yang menderita kusta basah atau MB (Multi Basiler). Kemasan berwarna oranye untuk anak-anak dibawah 15 tahun, tipe MB.

Sementara, kemasan atau blister berwarna hijau dan biru masing-masing berbeda cara penggunaan. Untuk warna hijau diperuntukkan untuk orang dewasa 15 tahun keatas untuk tipe kusta kering atau PB (Pausi Basiler). Sedangkan kemasan/blister warna biru untuk anak-anak dibawah usia 15 tahun. Pengobatan untuk tipe MB membutuhkan waktu selama 12 – 18 bulan. Sementara untuk tipe PB membutuhkan masa waktu pengobatan  6 – 9 bulan. (Musa Abubar)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *