Redupnya Sikap Kritis Mahasiswa, Karena Demokrasi Di Papua ‘Mati’

JUBI — Demikian penilaian yang dikemukakan Chiristian Peday, Ketua Umum Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Cenderawasih (Uncen) Jayapura, menanggapi sikap kritis mahasiswa di Tanah Papua yang mulai terkikis seiring jalannya demokrasi yang ada saat ini.

“Mahasiswa Papua saat ini jarang kritis, karena trauma terhadap ruang  demokrasi di Papua yang terus dibungkam dan menelan korban” kata Christian, kepada JUBI di Abepura, Senin (28/2)

Dia menjelaskan, karakter dan jati diri para mahasiswa di Papua yang dulunya sangat kritis dalam menyikapi berbagai persoalan dan kebijakan serta program yang tidak berpihak dan sesuai untuk kehidupan  masyarakat. “Saat ini telah mengalami degradasi bahkan sudah hampir mati akibat ruang demokrasi bagi setiap mahasiswa maupun aktivis di Papua,”

Selain itu, katanya, biasanya tindakan-tindakan para aktivis dan mahasiswa yang mengekpresikan hak demokrasi juga sering dicap sebagi tindakan separatis dan dikenakan pasal  makar, bahkan menjadi target pencerarian intelejen.

Lanjutnya, karena “matinya” demokrasi tersebut semakin banyak mahasiswa yang menjadi trauma atas berbagai kejadian yang telah terjadi kepada para pendahulunya. Misalkan yang terjadi kasus penangkapan,penahanan dan pembataian terhadap para aktifis  dan mahasiswa yang telah melakukan aksi damai pada tanggal 16 maret  2006 lalu serta sejumlah kasus lainya. “Sehingga banyak mahasiswa yang akhir-akhir ini semakin bersikap acuh-tak acuh terhadap semua perkembangan dan dinamika politik, hukum, ekonomi maupun persoalan sosial yang terjadi diatas Tanah Papua,” akuinya.

Selain itu dia menilai, akibat dari itu bukan hanya berdampak pada matinya kreatifitas dan ruang demokrasi bagi mahasiswa. Tetapi juga semakin membuka ruang kepada para elit-elit politik dan para penguasa untuk berekspresi menindas rakyat demi kepentingan mereka.

“ Sebenarnya situasi Politk di Papua tidak akan separah ini, tetapi karena  pilar perubahan bagi masyarakat dan Negara alias mahasiswa sudah jarang “bergongog” ujarnya.  Walaupun masih ada sebagian para mahasiswa yang masih eksis melakukan aksi-aksi demostrasi. Dirinya berharap semangat dan sikap kritis mahasiswa tetap ada, sehingga setiap dinamika sosial yang terjadi bsia disikapi secara arif dan bijaksana. (Yarid AP)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *