Terjebak Banjir, Anak-Anak Ekadide Tidak Sekolah

JUBI — Akibat banjir yang melanda kampung-kampung di Distrik Ekadide dan Agadide, Kabupaten Paniai, sejak pekan lalu, anak-anak tidak bisa menyeberang sungai untuk belajar di sekolah.

Data yang dihimpun JUBI, sedikitnya 2000 anak di Distrik Ekadide tidak mengikuti kegiatan belajar mengajar di sekolah seperti hari-hari sebelumnya.

Kepala Kampung Obaipugaida, Distrik Ekadide, Fabianus Degei, Kamis (31/3), mengatakan, anak-anak tidak bisa ke sekolah karena terjebak banjir, sehingga mereka terpaksa tinggal di tenda pengungsian. Sebagian anak mengantar orang tuanya mencari bahan makanan di kebun yang terletak di dataran tinggi.

“Mau ke sekolah juga masih pikir-pikir dengan kondisi air, bisa berbahaya,” ujarnya.

Bocah-bocah ingusan itu tiba-tiba menjadi pekerja ulet membantu anggota keluarganya mengungsi ke tempat aman. Juga ketika mengantar orang tua dengan speedboat ataupun perahu tempel. Padahal, ini melanggar Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

“Biasanya mereka ke sekolah, tapi sekarang setelah ada bencana ini mulai pagi mereka terpaksa bantu keluarga,” lanjut Degei.

Salah seorang anak yang sedang mengemudikan speedboat mengaku hendak menjemput ibunya dari Komopa usai belanja di kios. “Tadi pagi saya antar mama pergi beli,” ujarnya.

Masalah lain yang muncul pasca bencana, kesehatan anak-anak sangat rentan. Apalagi bekerja tanpa mengenal lelah. Makan juga seadanya dan mengkonsumsi air kotor.

“Sangat memprihatinkan kondisi warga, termasuk anak-anak. Air minum saja mereka ambil dari tempat tinggal yang sudah tidak bersih. Ini akan menambah persoalan kesehatan bagi para korban bencana,” kata Direktur Yapkema Paniai, Hanok Herison Pigai.

Ia berharap, pemerintah dalam hal instansi teknis segera melihat bencana ini. “Warga sangat mendambakan bantuan bahan makanan dan obat-obatan,” imbuh Hanok. (Markus You)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *