Bandara TH Tak Bantu Masyarakat Maksimal

JUBI — Kawanan babi menyambut setiap pesawat yang datang. Berarak, berlari, seolah bergembira bersama setiap penumpang yang datang dengan tawa ria. Bandara (Bandar Udara) di kampung Towe Hitam, distrik Towe, kabupaten Keerom, Papua ini ditumbuhi rerumputan setinggi kira-kira 2-10 cm.

Untuk menuju ke kampung, pusat distrik Towe ini dibutuhkan waktu sekitar 1 jam dengan pesawat AMA (Associated Mission Aviation) atau Penerbangan Misi Katolik Papua, berkapasitas 5 penumpang. Termasuk pilot. Agak sulit menuju ke kampung yang pencaharian penduduknya berburu dan berkebun ini. Transportasi memang sulit. Hanya melalui udara.

“Makanya susah, karena hanya dengan carter. Masyarakat mau jual hasil kebunnya ke kota, tapi kendala transportasi,” ujar kepala kampung Towe Hitam, Agustinus Mera, kepada Jubi, di Towe Hitam, belum lama ini.

Bandara ini ada di Towe hitam. Di sisi barat landasan, tampak SDI Towe Hitam, gereja Katolik, dan pos jaga Yonif 141, Kodam II/Sriwijaya. Sementara itu, di Timur ada rumah dan kantor distrik Towe tanpa penghuni. Rumah dan kantor ini hanya ditemani puskesmas dan beberapa rumah petugas kesehatan. Kantor distrik masih kosong. Sebab, kepala Distriknya belum datang. Masih di kota, Arso, Keerom. Bila pesawat absen, lapangan terbang ini dipakai sebagai lapangan bermain bola kaki untuk anak-anak. Warga Towe memang sangat merindukan pembangunan bandara untuk mengangkut hasil kebunnnya ke kota.

“Kalau ada pesawat besar yang bisa tampung bayak orang, kami bisa turun ke kota untuk menjual sayur, ubi, pisang, dan hasil lainnya,” ungkap Martinus Kenay, seorang warga.  Kondisi transportasi yang parah, memang menjadi keluhan yang jamak dialami warga di distrik dengan 7 anak kampung ini.

“Terkadang kami jalan kaki untuk membawa laporan ke Arso,” kata Marselinus, seorang petugas kesehatan.

Pihak Marsel, kata dia, bahkan menempuh perjalanan selama  4 hari ke Arso untuk membawa laporan kesehatan. Paling lama satu minggu perjalanan. Jadi, bermalam di hutan, pinggiran jalan setapak, dan sungai-sungai.

Kepala Bandara UPT Dirjen Hubud ( Direktur Jendral Hubungan Udara) Papua, Sherlock J.T mengatakan, pihaknya akan berupaya untuk memperluas bandara tanpa aspal ini hingga mendatangkan pesawat dengan kapasitas penumpang lebih dari 10 penumpang, semisal Merpati. Ahad lalu, pihaknya mengukur areal landasan untuk menambah panjang dan lebarnya.

“Dari hasil hitung ini, kami akan bawa ke Jakarta. Panjangnya nanti sekitar 1 km, dan lebarnya, 18 meter,” kata Sherlock. Selanjutnya, kata Sherlock, bisa ditempuh dengan pesawat Merpati, dengan kapasitas penumpang maksimal 20 orang.  Namun, J.T mengaku, pihaknya belum menetapkan anggaran untuk membiayai pembangunannya. Mei mendatang, diharapkan bisa rampung.

“Bila pembangunan bandara ini sudah selesai, maka selanjutnya akan banyak persaingan,” pangkas Martinus Kenay. (Timo Marten)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *