Mangrove Juga Banyak Menyimpan Carbon

JUBI — Fakta menunjukan bahwa selama ini banyak pihak yang belum mengetahui kalau lahan-lahan basah termasuk hutan bakau atau mangrove ternyata menyimpan banyak karbon. Begitu pentingnya sehingga tak heran jika hutan ini berubah fungsi hingga  mengakibatkan emisi karbon yang mengkhawatirkan.

“Penelitian potensi karbon pada lahan basah khususnya mangrove baru dilakukan sejak 2008 lalu dan ternyata ekosistem mangrove sangat berperan dalam pengikatan karbon,” papar Louis Verchot, Peneliti Senior Pusat  Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR) dalam pelatihan jurnalis di Bali belum lama ini.
Menurut dia, lahan mangrove yang termasuk dalam lahan basah mampu membuat ikatan karbon membusuk dan tinggal lama akibat sedimentasi yang membusuk tidak bisa terlepas. Lebih lanjut kata dia, karbon mampu tertimbun selama berabad-abad dan mencapai kedalaman hingga beberapa meter, semakin lama hutan mangrove ada, itu semakin banyak pula menyimpan potensi karbon.

“Ekosistem termasuk lahan basah mampu menyimpan karbon lebih dua kali lipat dan dapat mencapai 800-1.200 ton per hektar,”papar Verchot.

Hal senada juga disampaikan Matthew Warren dari Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA), Bidang Kehutanan menjelaskan, memang jika dilihat dari udara tampak penyimpanan karbon lebih kecil bila dibandingkan dengan hutan tropis. Namun lanjut dia, hutan mangrove di kawasan estuari jauh lebih besar kandungan karbonnya karena tidak berhadapan langsung dengan laut. Berbeda dengan mangrove di kawasan pantai atau coastal mangrove menyimpan potensi karbon sedikit saja karena pengaruh gelombang laut yang besar.

Para pakar membagi kawasan bakau atau mangrove meliputi, hutan bakau minyak yang memiliki nama ilmiah adalah Rhizopora apiculata Bl. Ciri-ciri bakau minyak ini berwarna kemerahan pada tangkai daun dan sisi bawah daun. Bunganya berkelompok dua-dua, dengan daun mahkota gundu dan kekuningan. Buah kecil, coklat, panjangnya antara 2-3,5 cm.

Bakau minyak ini biasanya menyukai tanah berlumpur halus dan dalam, yang tergenang jika air pasang serta terkena pengaruh masukan air tawar yang tetap dan kuat. Mangrove minyak ini banyak terdapat di perairan Pasifik termasuk Papua.

Selain bakau minyak, ada bakau yang disebut bakau kurap atau dalam bahasa latin adalah Rhizophora mucronata poir. Bakau kurap seringkali disebut pula bakau hitan karena memiliki kulit batang hitam yang memecah datar. Ciri-cirinya adalah bunga berkelompok 4-8 kuntum, daun mahkota putih, berambut panjang hingga 9mm, buah berbentuk telur, berwarna hijau kecoklatan, panjangnya mencapai 5-7 cm. Bakau kurap lebih menyukai subtract yang tergenang dalam dan kaya humus, tanaman ini jarang sekali ditemukan pada tempat yang jauh dari pasang surut. Sedangkan jenis terakhir adalah bakau kecil atau bahasa ilmiahnya disebut Rhizophora stylosa griff. Tanaman bakau kecil ini tumbuh dengan satu pohon atau banyak batang. Bakau ini hanya tumbuh pada ketinggian 10 meter saja. Bakau ini memiliki ciri-ciri bunga berkelompok 8-16 kuntum kecil-kecil, daun mahkota berwarna putih, berambut panjang hingga 8 mm. Buahnya berwarna coklat kecil dengan panjang sampai dengan 4 cm. Tanaman bakau
kecil ini menempati habitat yang paling beragam, mulai dari lumpur, pasir hingga pecahan batu atau karang yang terdapat di tepi pantai hingga daratan yang mengering terutama di tepian pulau yang berkarang.

Lalu bagaimana dengan kondisi hutan bakau di dunia khususnya di Indonesia saat ini? Menurut studi yang dilakukan Center for International Forestry Research (CIFOR) dan USDA Forest Service, para peneliti menghitung penyimpanan karbon ekosistem bakau di sepanjang daerah yang luas di region Indo-Pasifik, yang sebenarnya merupakan inti geografis bakau dan keanekaragaman. Selama ini belum ada studi yang mengintegrasikan perhitungan-perhitungan yang diperlukan untuk penyimpanan karbon bakau secara keseluruhan dengan melintasi geografis yang luas.

Menurut para ilmuwan dari CIFOR dan USDA Research, kepadatan karbon di hutan bakau empat kali lebih tinggi dari pada hutan tropis di dataran tinggi. Perusakan dan degradasi ekosistem bakau diperkirakan mencapai 10% dari emisi deforestasi global, walaupun luasnya hanya 0,7% dari total daerah hutan tropis. Karbon tersebut ternyata banyak tersimpan di bawah hutan bakau dari pada di atas permukaan tanah dan air.

Data satelit terakhir menunjukan bahwa Indonesia mempunyai 3,1 juta hektar hutan bakau, atau sebanyak 22,6% dari bakau di dunia (Giri et al, 2011). Ada juga studi lain yang menyebutkan hutan bakau di Indonesia luasnya antara 2,5-4,5 juta hektar dan merupakan mangrove terbesar di dunia. Melebihi Brazil (1,3 juta ha), Nigeria (1.1 juta ha) dan Australia (0,97 juta ha).

Sedangkan di Indonesia, Tanah Papua menempati urutan teratas hutan bakau, sebanyak 35%, di Kalimantan Timur sebanyak 20,6%, di Sumatera Selatan sebanyak 9,6% dan provinsi lainnya kurang dari 6%, termasuk DKI Jakarta tetapi yang jelas, peran hutan bakau sangat strategis dan sangat berguna bagi kehidupan manusia.

Pulau Kalimantan telah kehilangan sebanyak 7% hutan bakau setiap tahunnya antara Tahun 2000-2005. Hutan bakau terancam hilang atau rusak karena bertambahnya jumlah penduduk di kawasan pantai termasuk penimbunan hutan bakau. Bakau juga menghadapi ancaman yang luar biasa dari alih guna lahan menjadi akuakultur, seperti tambak udang atau kepiting dan pengembangan infrastruktur.
Memang hutan bakau Papua juga mengalami ancaman pengrusakan seperti di Kawasan Entrop (Jayapura) akibat pengembangan kota dan kawasan estuari di Pantai Mimika. Akibat buangan tailing dari PT Freeport juga merusak hutan bakau di kawasan estuari. Dikhawatirkan ke depan, kawasan hutan bakau sangat rentan terhadap alih fungsi lahan. Terlepas dari pro dan kontra, hutan bakau jelas sangat melindungi manusia dari terjangan tsunami atau gelombang air laut termasuk memproduksi banyak persediaan karbon. (Dominggus A.  Mampioper)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *