Towe, Distrik Tanpa Administrasi

JUBI — Kabut tebal menyelimuti Kampung Towe Hitam, distrik Towe, Kabupatem Keerom, Papua, pagi 26 April 2011. Jalanan setapak sunyi. Rupanya, warga sedari tadi di kebun. Sebab, berkebun merupakan pencaharian warga, selain berburu. Saban hari, dengan langkah gagah, warga memikul Jubi (busur-panah: red), dengan anjing-anjingnya, menjinjing noken menuju hutan.

Entah berburu atau berkebun. Para ibu juga tak ketinggalan menjinjing nokennya yang berisi bayi. Nanti pulang, noken mengisi ubi-ubi dari kebun. Mereka melintasi Bandar Udara (bandara), jika menuju ke arah barat. Bandara ini diramaikan babi, yang sedang mencari makan. Rumput setinggi 2-10 cm juga tumbuh di sini. Di Kampung dengan penduduk 241 orang inilah pusat distrik Towe.

Kampung Towe Hitam tampak seperti Surga. Dikelilingi hutan lebat. Kali besar. Indah. Tapi, sunyi. Listrik tak ada. Apalagi jaringan telepon. Sebelah Timur Bandara tampak gedung distrik dan rumah dinas kepala distrik. Tapi, dua bangunan pemerintah ini tanpa penghuni. Hanya ‘menonton’ pesawat yang datang.  Sebab, kepala distriknya, entah ke mana. Di bagian kiri kantor distrik, berjejer puskesmas dan beberapa rumah petugas kesehatan. Untuk menjangkau pusat distrik ini, memang sulit. Perjalanan ditempuh dengan pesawat berkapasitas hanya 5 orang, termasuk pilotnya. Lama perjalanan sekitar 1 jam dari bandara Sentani, Jayapura.

“Inilah yang menjadi kendala utama perjalanan ke sini. Bahkan, banyak guru atau petugas lainnya yang pulang dari sini karena mengeluh transportasi,” ujar George Mera, seorang guru SDI Towe Hitam.

Distrik Towe merupakan pemekaran dari distrik Web, Keerom. Ada tujuh anak kampung yang termasuk dalam wilayah Towe, seperti, Towe Atas, Towe Hitam, Milki, Lules, Terfones, dan Tefalma. Setiap kampung dipimpin kepala kampung masing-masing. Distrik Towe tergolong baru. Sejak 2008 dimekarkan, distrik berpenduduk 1109 laki-laki, dan 938 perempuan ini berpusat administratif di Towe Hitam dengan kepala distriknya Noak Wasanggae. Namun, beberapa waktu lalu, kepala distrik baru menggantikan Noak. Hingga kini warga masih menunggu kadistrik (kepala distrik) yang baru ini.

“Saya tidak tahu namanya. Tapi, selama ini kepala distrik limpahkan tugasnya melalui saya. Lalu saya sampaikan kepada beberapa kepala kampung lainnya,” kata Agustinus Mera, kepala Kampung Towe Hitam.

Kadistrik baru, kata Agustinus, belum ke Towe Hitam karena berbagai alasan. Barangkali terkendala dana. Sebab, biaya transportasi melalui jalur udara sangat mahal. Sekitar Rp 700 ribu jika mau ke Bandara Sentani. Tapi, kebanyakan carter, dengan biaya puluhan juta.

“Yang baru tidak datang lagi. Ia dilantik bulan Februari 2011, tapi, ia tunggu dana ke sini,” lanjut Agustinus.

Puskesmas  Towe Hitam juga mengalami hal serupa. Pasalnya, kepala Puskemasnya, hingga kini belum pulang. Sementara pasien harus  menanti. Entah berujung pada apa. Beberapa mantri setia melayani pasien, meski berhari-hari ke kampung-kampung dengan melintasi jalan setapak, hutan lebat, sungai, dan gunung. .

“Kepala Puskesmas, Nikanor Swabra lagi di Arso 4, sejak 10 Februari yang lalu ke sini tapi balik lagi tanggal 2 Maret. Tapi sampai sekarang belum pulang,” kata  Marselinus Wellip, petugas Puskesmas Towe Hitam. (Timo Marten)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *