Enembe : Pemekaran Ikut Membangun Daerah Tertinggal

JUBI — Keinginan Pemerintah Pusat untuk mengembalikan daerah pemekaran ke kabupaten induknya adalah sesuatu yang tidak tepat, sehingga hal ini tidak disetujui oleh Bupati Puncak Jaya,  Lukas Enembe. Karena baginya pemekaran ikut membangun kemajuan daerah yang tertinggal selama ini.

“Penggabungan dan sebagainya, saya tidak setuju. Tidak semudah itu kabupaten yang dianggap gagal maka digabungkan dengan kabupaten induk. Kalau Puncak Jaya dikembalikan ke Kabupaten Nabire, kapan lagi daerah ini merasakan perubahan,” tandas Lukas Enembe, didampingi wakilnya, Henock Ibo,  kepada wartawan di Mulia Inn Kota Baru, Kabupaten Puncak Jaya, Minggu (1/5).

Lukas Enembe menilai, penggabungan itu bukan solusi yang tepat, karena hanya dengan pemekaran sajalah bisa menjawab permasalahan di setiap daerah yang selama ini belum tersentuh dengan kegiatan pembangunan. “Kabupaten Puncak Jaya belum ada penanaman investasi, namun hal itu bukan merupakan sesuatu alasan untuk dilakukan penggabungan itu. Perlu dicatat bahwa Puncak Jaya mempunyai potensi sumber daya alam (SDA) yang luar biasa, hanya saja belum bisa kelola. Karena infrastruktur yang tidak memadai, karena terbatasanya alokasi anggaran dari pemerintah,” paparnya.

Persoalan lainnya adalah masalah mahalnya sarana dan prasarana transportasi, sehingga masyarakat tidak mampu memasarkan hasil pertaniannya ke luar Puncak Jaya. Apalagi sarana satu-satunya memasarkan hasil pertanian dan SDA hanya melalui transportasi udara.

Untuk itulah, memajukan pembangunan yang membawa kemandirian dan kesejahteraan bagi masyarakat Papua itu membutuhkan waktu yang cukup panjang. Terutama untuk merubah pola pikir masyarakat dari sifat konsumtif ke sifat yang lebih profesional dalam meningkatkan kesejahteraan hidupnya melalui peningkatan pendapatan ekonomi keluarganya.

“Kami kasih modal hari ini, masyarakat pakai beli babi untuk dimakan hari ini. Pola ini kita tidak bisa samakan dengan Jakarta. Jakarta dikasih modal ia berpikir untuk bagaimana modal dari Rp 10 juta ini menghasilkan pendapatan menjadi Rp 20 juta. Di Puncak Jaya ini tidak bisa seperti ini, karena kasih Rp 10 juta langsung habis, jadi wajar disini 90 persen rakyat masih dibawa garis kemiskinan.” keluh Enembe mengenai sifat konsumtif masyarakatnya.

Menurut Enembe, kurang lebih 30 tahun dibawah Pemerintah Kabupaten Nabire, sama sekali daerah ini tertutup dengan dunia. Orang tidak bisa masuk ke Puncak Jaya sehingga kegiatan pembangunanpun tidak bisa masuk. (Eveerth Joumilena)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *