Filep Karma Sesali Pengobatan Ferdinand Pakage

JUBI — Filep Karma, tahanan politik Papua mengatakan dirinya menyesali pengobatan rekannya, Ferdinand Pakage yang terus menerus ditunda. Menurutnya, seharusnya Ferdinand dikirim bersama dia ke Jakarta untuk berobat sejak 19 Juli 2010.

Seperti diketahui bersama, Ferdinand  Pakage dipukul dan disiksa oleh tiga orang sipir penjara. Mereka adalah Alberth Toam, Victor Apono dan Gustaf Rumaikewi. Alberth Toam memukul Pakage dengan gembok kunci di kepalanya. Gembok yang digunakan mengenai mata kanan Pakage hingga mengalami pendarahan. Hingga mata kanannya buta.

“Waktu itu saya sudah menahan diri untuk tidak mau berangkat ke Jakarta untuk berobat. Saya lakukan itu dengan tujuan sama-sama dengan Ferdinand Pakage. Tapi pihak Lapas dan Kementrian Hukum dan HAM terus paksa saya untuk berangkat. Mereka tidak ijinkan Ferdinand berangkat,” kata Karma kepada JUBI setelah ibadah bersama dalam Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Klas II A Abepura, Minggu (1/5).

Menurutnya, seharusnya Kementrian Hukum dan HAM Papua dan Lapas Abepura mengijinkan Ferdinand berangkat bersama dirinya ke Jakarta. Lantaran pengobatan terhadap Pakage akan terus menerus dibiarkan. “Buktinya, sekarang pengobatan terhadap Ferdinand terus menerus ditunda,” ungkapnya.

Karma menambahkan, negara harus bertanggung jawab atas pengobatan  Ferdinand Pakage. Pengobatan atas Pakage harus dipercepat. “Negara harus tanggung jawab pengobatan Pakage. Negara harus siapkan dana untuk berobat,” tandasnya.   

Seperti diberitakan, Filep Karma diberangkatkan oleh Kementrian Hukum dan HAM Papua berserta Lapas Abepura  ke Jakarta untuk berobat pada 18 Juli 2009. Setiba di Jakarta, 19 Juli 2009, Karma langsung dibawa ke Rumah Sakit (RS) PGI Cikini Jakarta guna mendapat perawatan dan pengobatan atas penyakit Prostate Acute yang dideritanya. (Musa Abubar)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *