Satu Mei, Awal Bangsa Papua Dijajah

JUBI — Peringatan 1 Mei dinilai orang Papua pada umumnya sebagai hari aneksasi Papua ke pangkuan Negara kesatuan Republik Indonesia. Namun, Filep Karma, tahahan politik Papua menilai hari itu sebagai awal penjajahan terhadap bangsa Papua.

“Bagi saya tanggal satu Mei merupakan awal mula penjajahan terhadap orang Papua,” kata Karma kepada JUBI usai ibadah bersama dalam Lembaga Pemasyarakatan (LP) Klas II A Abepura, Jayapura, Papua Minggu (1/5). Karma menilai, sejak itu Papua diserahkan ke tangan ‘Indonesia.’

“Papua waktu itu terlepas dari mama Belanda jatuh ke tangan Indonesia,” tandasnya.  Sementara itu, Sem Yaru, juga salah seorang tahanan politik Papua mengatakan walau bangsa Papua diserahkan ke pangkuan NKRI untuk ditindas dan dijajah tetapi perjuangan panjang untuk mencapai kemerdekaan masih berlaku.

Dia menilai, 1 Mei 1963 yang diperingati tiap tahun sampai saat ini merupakan hari perjuangan bagi bangsa Papua. “Perjungan Papua masih terus berlangsung. Walau kami ditahan tapi kami terus berjuang,” ungkapnya.

Dari data yang diperoleh JUBI, tanggal 1 Mei 1963, sesuai dengan perjanjian New York (New York Agreement) melalui suatu badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) bernama: United Nations Temporary Executive Authority (UNTEA), Papua (Irian Jaya) saat itu, diserahkan dari Pemerintah Negara Kerajaan Belanda kepada Pemerintah Republik Indonesia dengan empat perjanjian.

Isi dari perjanjian New York (New York Agreement) pertama, apabila badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) atau United Nation (UN) telah membenarkan persetujuan atau perjanjian itu melalui Rapat Umum, maka Belanda segera menyerahkan kekuasaan atas Irian Jaya (Papua) kepada UNTEA. Kedua, terhitung sejak tanggal 1 Mei 1963 UNTEA yang memikul tanggung jawab Administrasi Pemerintah di Irian Jaya (West Papua) selama 6-8 bulan dan menyerahkannya kepada Indonesia.

Tiga, pada akhir tahun 1969, dibawah pengawasan Sekretaris Jenderal PBB dilakukan Act of Free Choice, orang Irian Jaya (West Papua) dapat menentukan penggabungan pasti tanah mereka dengan Indonesia atau menentukan status atau kedudukan yang lain (Merdeka Sendiri). Terakhir, Indonesia dalam tenggang waktu tersebut diharuskan mengembangkan dan membangun kebersamaan orang Irian Jaya (Papua) untuk hingga akhir 1969, Papua dapat menentukan pilihannya. (Musa Abubar)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *