Miras Dari Nabire Diangkut Ke Degeuwo Melalui Jalur Darat

JUBI — Pengiriman barang ke kawasan penambangan emas tepatnya lokasi 99 dan Bayabiru sudah dihentikan sejak beberapa waktu lalu, namun ternyata saat ini minuman keras (miras) masih marak beredar di Degeuwo, Kabupaten Paniai.

Tokoh Perempuan Papua yang juga Koordinator Asosiasi Pendulang Emas (APE), Natalia Kobogau mengatakan, miras yang sedang beredar di dua lokasi itu diangkut melalui jalan darat karena sekarang helikopter tidak menerima pengiriman minuman beralkohol ke Degeuwo.

“Kami sudah hentikan pengiriman miras. Tapi, ternyata ada oknum tertentu mensuplai miras melalui jalan darat,” ujarnya, Senin (20/5).

Natalia Kobogau yang akrab disapa Mama Magai menceritakan, miras tersebut diangkut dengan menggunakan kendaraan roda empat dan didrop di kilometer 173. “Setelah itu, mereka suruh anak-anak di situ untuk pikul karton-karton miras itu bawa ke Bayabiru dan lokasi 99. Anak-anak itu ada yang dibayar 3 juta, ada yang dapat 2 juta.”

Mama Magai berharap, aparat kepolisian segera mengusut kasus pengiriman miras melalui jalur darat itu.

Dikatakan lebih lanjut, ia sudah meminta pengelola helikopter untuk tidak menerima miras yang hendak dikirim ke Degeuwo. “Kami sudah hentikan pengiriman barang ke lokasi 99 dan Bayabiru. Untuk lokasi lain tidak masalah. Yang jelas, semua cafe yang ada itu harus ditutup supaya orang tidak lagi kirim miras ke Degeuwo,” tegasnya.

Menurut Natalis, selain miras, masyarakat juga melarang adanya pengiriman perempuan yang kerapkali berfungsi ganda, selain mangker di tempat-tempat biliar dan pelayan cafe ataupun karaoke, juga melakukan aktivitas prostitusi di sekitar lokasi pendulangan emas.

“Pokoknya WTS, kafe, karaoke, tempat biliar,  dan miras harus dihentikan. Jangan ada di Degeuwo lagi,” ujarnya. (Markus)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *