Pasar Mama Papua Memprihatinkan

JUBI — Kondisi pasar sementara pedang asli papua di Jayapura sangat memprihatinkan. Hal ini dipengaruhi berbagai aspek, di antaranya persaingan yang kian sengit. Selain itu, pengunjung yang berkurang menyebabkan mama ‘berselonjor’saja di lapak-lapak miliknya.

Salah satu pedagang asli yang ditemui Jubi di pasar yang diresmikan akhir 2010 ini mengaku mengeluh dengan kurangnya jumlah pembeli. Pasalnya, jika pembeli berkurang alias sepi, modalnya tidak kembali.

“Paling kitong (Kita: red) menunggu satu atau dua yang datang belanja. Kalau sepi, modal tra kembali, ya kita sabar saja,” kata seorang ibu yang enggan menyebutkan namanya kepada Jubi, di Jayapura, Papua, Selasa, 31 Mei 2011 siang.

Ibu yang mengaku menjual sirih pinang sejak Januari 2011 ini mengaku hanya berpenghasilan sekitar Rp 30 ribu setiap hari. Itu pun kalau pembeli ‘banjir’. Tapi, jika sepi, bahkan, satu sen pun tak dapat.

“Ya, paling kita dapat Rp 30 ribu setiap hari jika rame,” lanjut perempuan asal Dormena, Depapre, Jayapura ini.

Tak hanya itu, tak adanya WC, tempat sampah, dan persaingan yang sengit dengan pedagang warga non Papua juga menyebabkan pedagang ‘kelas bawah’ di kota ini kolaps. Di Terminal Mesran, yang tidak jauh dari situ, penjual pinang, bahkan, didominasi warga non Papua.

“Ini memprihatinkan, apalagi pasar yang berada di tengah kota ini,” ujar Wasti Eser Marisan, seorang mahasiswi Universitas Ottow dan Geisler, Kotaraja, Jayapura, saat ditemui di Jayapura.

Menurut mahasiswi yang sedang meneliti tentang kesejahteraan mama pedagang asli Papua ini, pemerintah daerah (Pemda) kota Jayapura sesmetinya memperhatikan kondisi ini dengan serius.

“Pemda harus buktikan komitmennya,” ujar Wasti. (Timo Marten)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *