Pejabat Rumah Sakit Jayapura Diduga Gelapkan Dokumen TPB

JUBI — Ironis, Kepala Sub Bagian (Kasubag) Perencanaan Program Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dok II di Jayapura, Papua, berinisial J menyuruh anak buahnya mencuri hardisk yang berisi data Tunjangan Pembayaran Bersyarat (TPB).  

Kasus itu terjadi sejak 21 Mei 2011 lalu, namun baru terungkap ketika dicari oleh keseluruhan pegawai dirumah sakit tersebut, akhir bulan ini. Data itu dicari lantaran hardisk yang menyimpan data itu tertukar. Motif pencurian dilakukan oleh seorang staf  honorer dibagian perencanaan program. Melalui pernyataan tertulis yang diterima JUBI dari staf honorer tersebut , Selasa (31/5) malam, dirinya mengaku mengambil hardisk tersebut atas dasar perintah dari atasannya yakni Kasubag Perencanaan Program  tersebut.

Dalam laporan pernyataan itu juga, staf tersebut mengungkapkan, alasan atasannya menyuruh dirinya mengambil data itu untuk membuat laporan draft  Daftar Perencanaan Anggaran (DPA) tahun 2011. 

Sementara itu, Kasubag Perencanaan Program RSUD Dok II Jayapura,  membantah tudingan yang menimpa dirinya. Kata dia, saat kejadian itu, dia sementara menjalankan tugas dinas ke Jakarta guna mengikuti sebuah pertemuan. Menurut dia,  kejadian itu terjadi sejak tanggal 18 Mei, saat pemilihan walikota-wakil walikota Jayapura berlangsung. “Saya berangkat ke Jakarta itu habis coblos. Setelah itu, saya berangkat ke Bandara naik pesawat Garuda untuk lanjutkan perjalanan ke Jakarta,” ujarnya.

Kasubag Perencanaan Program RSUD Dok II ini menegaskan, dirinya tidak pernah memberikan perintah baik secara lisan maupun tertulis untuk meminta data sepeti itu. “Tidak ada seperti itu. Kasusnya sudah ditangani polisi,” ungkapnya.  Dia menilai, pengakuan Iriansar sudah mencemarkan nama baiknya. “Masa seorang atasan meminta data dengan cara seperti itu. Saya tidak pernah meminta data dengan cara seperti itu,” tegasnya. Lanjut dia, selama ini dirinya sebagai pimpinan, selalu meminta data secara resmi kepada bagian kepegawaian.

“Masa sampai harus membohongi dan melakukan tindakan fatal seperti itu. Urusan data yah urusan orang kepegawaian. Saya mintahnya dari mereka. Tidak langsung membuka komputernya orang. Tidak ada hal-hal seperti itu,” paparnya.  Ia juga menilai, kasus tersebut terlalu dipolitisasi. Perlu diluruskan secara bersama. “Saya merasa semua ini fitnah,” imbuhnya.

Terkait pernyataan yang dibuat stafnya, J mengaku, tidak pernah tahu menahu soal itu. “Dia ada buat pernyataan seperti itu. Kalau ada berarti dia berbuat fitnah kepada saya,” tandasnya. Saat ini, perkara itu sementara ditangani oleh Kepolisian Daerah (Polda) Papua di Jayapura. (Musa Abubar)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *