Pimpinan Gereja : Lembaga Kemanan Negaralah, Penabur Benih Aspirasi “M”

JUBI — Papua selalu dijuluki sebagai tanah damai, akan tetapi pimpinan gereja menilai lembaga keamanan negara menunjukkan tanda-tanda dan perhatian untuk mengangkat tema”Papua Tanah Damai”, damai itu indah, kasih itu indah” dan lain-lain belakangan ini hanya sebagai wacana saja.

Hal tersebut disampaikan oleh pimpinan Gereja di Tanah Papua, masing-masing, Perwakilan Sinode Gereja Kristen Injili di Tanah Papua, Pdt. Elly Doirebo, STh, MM., Ketua Sinode Kingmi di Tanah Papua, Pdt. Benny Giay, Ketua Persekutuan Gereja-Gereja Baptis Papua, Pdt. Socratez Sofyan Yoman, menyikapi situasi politik dan kemaman menjelang suasana Paskah.

“Papua tanah damai, Akan tetapi sangat disayangkan bahwa tindakan-tindakan yang dilakukan lembaga tersebut hanya berhenti di seputar wacana-wacana indah di spanduk-spanduk, di depan lembaga-lembaga keamanan atau dijalan masuk pusat pemukiman atau perkantoran,” ujar Pdt. Socratez Sofyan Yoman, saat membaca keterangan pers tersebut, di Kantor Kingmi Papia, di Jayapura, Selasa (1/6).

Ditambahkan, menjalani dan mengamati kekerasan, ketegangan dan trauma yang dialami rakyat dalam beberapa bulan dan hari terakhir ini dalam suasana Paskah, maka pihaknya  menghimbau semua pihak agar tetap menghormati dan memelihara kesepakatan awal untuk menjaga atanah Papua sebagai Papua Tanah Damai.

Dijelaskan, dalam suasana Paskah ini kami mengajak umat untuk menyimak kekerasaan -kekerasaan berikut ini yang bertentangan dengan kata-kata indah tentang perdamaian di spanduk-spanduk tersebut, misalnya pada tanggal 30 Mei – 2 Juni 2010, Anggen Pugu/Tunaliwor Kiwo bersama Telengga Gire mengalami penyiksaan oleh Anggota TNI di Post Kwanggok Namile Kampung Yogorini, Distrik Tingginambut, Kabupaten Puncak Jaya.

“Tanggal 15 September 2010 sekitar 18.30 WIT, Brimob Kompi C tanpa  memberikan arahan dan peringatan melakukan penembakan terhadap dua orang korban warga sipil masing-masing Naftali Kwan (50 tahun) dan Sepinus Kwan (40 tahun) serta seorang  perempuan Arfonika Kwan mengalami kecelakaan patah kaki dan tulang pinggul akibat terpelosok jatuh ke jurang saat berlari dikegelapan malam menghindari aparat serta pencoretan nama-nama anggota MRP terpilih, Almarhum Agus Alua dan Ibu Hana Hikoyabi, sejak awal April 2011,” paparnya.

Kekerasan demikian yang terus dilakukan sambil menyibukkan diri berkampanye dilihat sebagai upaya negara memelihara budaya “pembohongan publik” yang dikemukakan oleh pimpinan lintas agama di Jawa. Budaya “bicara lain main lain” terus dipelihara. Dengan semangat kebangkitan Kristus, mari kita hentikan budaya “pembohongan publik” tadi.

Kedua, kekerasan yang terus dilakukan oleh lembaga negara ini, menurut para pimpinan Gereja ini adalah siasat untuk meradikalisasi (membuat orang Papua bertambah radikal) atau menyuburkan  aspirasi Papua Merdeka dikalangan masyarakat Papua, yang kemudian yang bisa mereka pakai sebagai alasan untuk menangkap dan membunuh orang Papua,” kata Socratez, yang dibenarkan oleh Pdt. Benny Giay.

Socratez menuturkan, kekerasan negara termasuk pula saat penembakan terhadap 2 orang warga di Dogiyai dan penyisiran terhadap masyarakat di sekitar dalam rangka melindungi sang bandar togel : Mardi Marpaung, Kapolsek Dogiyai serta isu TNI Polri akan melakukan latihan gabungan di Pegunungan Tengah

Dari press release yang diterima JUBI, juga dituliskan tentang penganiyaan dan pembunuhan terhadap Derek Adii di  Pelabuhan Samabusa di Nabire pada tanggal 14 Mei dan penikaman terhadap Gerald Pangkali di depan koren oleh anggota TNI di Waena pada tanggal 18 Mei, serta penanganan terhadap kekerasan di Abepura yang berpihak kepada pelaku kekerasan (non Papua) bukan kepada korban warga Papua pada tanggal 29 Mei.

Disini, katanya,  lembaga keamanan negara berfungsi sebagai penabur benih “aspirasi Papua Merdeka” dengan pendekatan kekerasan yang terus menerus, namun kemudian mereka tampil sebagai “penikmat” apa yang telah mereka tabur.

“Mereka menuai benih-benih kebencian yang ditanam, karena ujung-ujungnya akan melahirkan separatism yang kemudian menjadi “surat ijin” untuk operasi keamanan yang sekaligus menjadi sarana kenaikan pangkat,”

Kami melihat maraknya “spanduk kasih itu damai” dan lain-lain atau kegiatan ibadah seperti Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) atau penyelenggaraan Paskah Nasional dan lain-lain yang mendatangkan pembicara dari pusat, hanya sebagai upaya berbagai pihak untuk memenyembunyikan wajah kekerasan negara yang telah ditunjukkan diatas.

Pimpinan gereja menghimbau, kepada umat Tuhan, bahwa kita masih dalam suasana Paskah, karena itu kami mengajak umat untuk melihat catatan ini sebagai perkembangan diatas sebagai “tanda-tanda jaman, sehingga mari kita bangun dan tidak hanyut dalam permainan kekuatan-kekuatan destruktif.

“Dengarlah Firman Tuhan “Janganlah kamu serupa dengan dunia ini, tetapi berubahalah oleh pembaruan budimu, sehinga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah, apa yang baik, yang diberkenan kepada Allah dan yang sempurna (Roma 12 : 12),” demikian disampaikan Pdt. Socratez, yang mengutip ayat Alkitab, saat mengakhiri pernyataan tersebut kepada media. (Eveerth Joumilena)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *