Kabupaten Dogiyai Bikin Banyak Orang Kelaparan

Jubi — Dampak perkembangan kehadiran Kabupaten Dogiyai bukannya membawa perubahan baik bagi  masyarakat di kabupaten tersebut. Sebaliknya kehadiran ­kabupaten tersebut malah membawa banyak masalah, termasuk kasus pelanggaran Hak Azasi Manusia (HAM) serta kesusahan bagi warga lokal.

“Berbeda dengan  kondisi kami sebelum Dogiyai menjadi kabupaten. Sekarang (setelah Dogiyai di mekarkan menjadi  kabupaten – red) banyak orang lapar,” ungkap Mama Mariana Yobee, warga Dogiyai, Rabu (30/6).

Dijelaskannya, sebelum pemekaran (tahun 2009 ke bawah-red) warga Dogiyai, terutama kaum ibu rata-rata berkebun sayuran dan ubi serta beternak ayam, bebek, babi dan Kelinci. “Tapi setelah kabupaten ini hadir di sini, banyak orang pemalas kerja. Cepat tergoda dengan berbagai perubahan yang bertolak belakang dengan kebiasaan warga sebelumnya,” ujarnya.

Lanjutnya, akibat perubahan baru tersebut pula, banyak orang berhari-hari tinggalkan rumah, kebun dan ternak. Bahkan melupakan kebutuhan dan ikatan emosional dalam kekerabatan keluarga menurut adat suku Mee.

“Biasanya kami (satu keluarga-red) makan, minum dan jatuh bangun bersama. Sepanjang hari suami dan istri bekerja, mencari makan. Malamnya berkumpul, berdoa dan makan bersama. Tapi sekarang tidak demikian. Model-model hidup begini sudah tidak ditemukan dalam satu keluarga,” jelasnya. Bahkan, ujung-ujungnya terjadi kelaparan, keluarga berantakan, percekcokan, bahkan pelanggaran HAM yang selama ini dijunjung tinggi di tingkat Internasional. (Welly)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *