Diakui Kadistrik Jita Jarang Ditempat Tugas

JUBI  — Komandan Pos Resort Militer (Danpos Ramil) Jita,  Pembantu Letnan Dua (Pelda) Ruben Magai, mengakui bahwa Kepala Distrik Jita jarang berada ditempat tugas, bahkan hanya satu dua hari dan bisa lama turun ke kota.

Hal ini diakui Pelda Ruben Magai, ketika menjelaskan kesiapan pihak TNI setempat jelang HUT RI ke-66, akan tetapi tidak bisa berkoordinasi dengan kepala distrik setempat yang sering lebih banyak turun ke Kota Timika dan tidak berada di tempat tugas.

“Masyarakat juga mengeluh hal ini, karena kalau datang hanya satu minggu dan satu bulan bisa diluar Jita, ataupun kalau tiga hari bisa turun ke Kota Timika sampai lama lalu balik kembali,” paparnya.

Kami ingin berkoordinasi, katanya, dengan kepala distrik, akan tetapi kalau tidak ditempat tentu akan mengalami kesulitan.

“Terutama dalam rangka HUT RI Ke-66 harus diadakan berbagai acara, jadi membutuhkan dana yang harus dibicarakan bersama,” tandasnya.

Distrik Jita, Kabupaten Mimika, Papua,  Berdasarkan hasil pencacahan Sensus Penduduk 2010,  jumlah penduduk Distrik Jita adalah 1264 jiwa yang terdiri atas 720 laki-laki dan 544 perempuan. Penduduk paling banyak bertempat tinggal di Kampung Sempan Timur yakni sebanyak 371 jiwa atau 28,72 persen.

Kampung yang paling sedikit penduduknya adalah Kampung Wenin dengan jumlah penduduk 87 jiwa atau 6,88 persen. Dengan luas wilayah 1097 Km2 yang dihuni oleh 3954 jiwa, maka  rata-rata tingkat kepadatan penduduknya adalah 3.6 jiwa/Km2.

Dirinya mengakui  untuk melakukan pendekatan dan membangun masyarakat harus dengan hati dan kesabaran serta berupaya merangkul masyarakat, sehingga masyarakat bisa memahami dengan baik dan mendukung kegiatan apapun dari pemeriintah.

“Memang agak rumit karena banyak eks pejuang Papua Merdeka, tetapi pembangunan harus berjalan, sehingga mereka juga kami ajak dalam membangunn daerah lebih maju lagi,” katanya.

Menanggapai hal tersebut, Kodim 1710/Mimika, Christian K. Tehuteru mengaskan bahwa pihaknya dalam rangka membangun masyarakat  tetap berjalan sesuai fungsinya, terutama dalam membantu proses belajar bagi para siswa yang juga kadang ditinggalkan gurunya akibat tempat tugas yang jauh.

“Kami juga mempunyai program pemberatasan buta aksara dikampung-kampung, jadi bukan hanya pengamanan wilayah saja, termasuk  bagaimana ikut membantu mereka yang buta aksara agar bisa membaca dan menulis,” paparnya. (J/05)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *