Pelajar SMP Di Jila Belajar Tanpa Kursi dan Meja

JUBI — Tak ada rotan, akar pun jadi. Demikian juga salah satu SMP Negeri di Jila walaupun tidak ada kursi dan meja alias para pelajar ini belajar
beralaskan lantai dasar, sehingga sangat membutuhkan perhatian dari Pemerintah Kabupaten Mimika.

Hal tersebut diakui Kepala Biro Pendidikan Lembaga Pemberdayan Masyarakat Amungme – Kamoro (LPMAK), Pascalis Abner, kepada pers di Timika, Sabtu (30/7). Menyikapi semangat belajar pelajar SMP walaupun harus duduk beralaskan lantai dasar.

“Ada sekolah yang tidak ada kursi dan meja, kalau ini sekolah swasta tidak mengapa , tetapi ini sekolah negeri, yang seharusnya juga mendapat perhatian dari Dinas Pendidikan Kabupaten Mimika,” kata Pascalis Abner.

Dirinya mengakui akibat berbagai kelemahan dan kendala pendidikan, dimana beberapa minggu lalu kami mengadakan tes tertulis Matematika di Jila dan ada yang mendapat hasil nol untuk mata pelajaran matematika, khusus pelajar SMP masuk SMA.

“Hal ini berarti apakah SD nya lulus atau diloloskan, bahkan waktu kami mengadakan tes para pelajar hanya duduk beralaskan lantai dasar, sebabnya masalah ini harus jelas ditangani secara serius oleh Pemerintah untuk membangun dunia pendidikan,” sarannya.

Informasi yang diterima, beberapa sarana yang harus di tempuh menuju Distrik Jila, dapat ditempuh dengan choper (pesawat helikopter) kurang lebih perjalanan dari Timika selama 30 menit.

Jumlah penduduk Distrik Jila adalah 3954 jiwa yang terdiri atas 2039 laki-laki dan 1915 perempuan. Penduduk paling banyak bertempat tinggal di Kampung Geselama yakni sebanyak 860 jiwa atau 21,75 persen. Sedangkan Kampung yang paling sedikit penduduknya adalah Kampung Noemun dengan jumlah penduduk 329 jiwa atau 8,32 persen.

Pascalis menilai,  minat belajar siswa di Jila sangat kuat dalam menempuh pendidikan, walaupun sarana dan prasana masih sangat terbatas. Karena itu harus ada upaya dalam rangka memberantas masalah pendidikan yang lebih maju lagi.

“Prosentasi buta aksara berdasarkan pengalaman kami, misalnya dari 100 orang yang tes, hampir 20-30 persen tidak bisa membaca dan menulis, sehingga LPMAK Biro Pendidikan memberikan program matriks yang intinya mengejar 3M yakni membaca, menulis dan menghitung,” tandasnya.  (J/05)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *