Pemerintah Diharapkan Merubah Memberamo Raya dari Sub Sistem ke Ekonomi Pasar

JUBI – Kabupaten Mamberamo Raya yang terkenal kaya akan sumber daya alamnya, ternyata tidak berbanding lurus dengan kondisi masyarakatnya yang masih hidup dalam sub system. Berdasarkan fakta, Mamberamo Raya yang kini masih hidup dalam satu dari empat tingkat peradaban. Peradaban itu dibagi masing-masing yakni pertama; peradaban masyarakat tergantung pada alam, tokoh agama, tokoh adat atau masyarakat. Kedua; Negara dan Idiologi menjadi kunci. Ketiga; peradaban ekonomi dan pasar serta keempat yakni peradaban manusia yang tidak dibatasi oleh ruang dan waktu tapi dapat bekerja lintas Negara karena kompetensi dan komitmennya.

Berbicara dihadapan forum orientasi dan rapat kerja (Raker) I KNPI Kabupaten Mamberamo Raya yang digelar dua hari (29-30/7), Wakil Ketua KNPI Provinsi Papua, Beny Ruatakurey, S.Pd, MM menegaskan masyarakat Mamberamo Raya perlu dirubah dari sub system ke ekonomi pasar dan informasi. Masyarakat di Mamberamo Raya yang berada pada peradaban pertama ini kata Beny, mereka tergantung pada kehidupan alamnya, dan tokoh panutan mereka, yakni tokoh agama, tokoh masyarakat yang sangat berperan sangat strategis.

“Masyarakat kita yang rata-rata hidup di daerah lembah, terutama di wilayah landai di Timur Laut dari pegunungan Foja dan Van Ress, mereka ini rata-rata hidup tergantung pada alam. Dia (masyarakat) ikuti kepemimpinan tokoh adat dan tokoh agama, sehingga bagaimana memberikan pegangan kepadanya untuk dia dapat berubah,” ujar Ruatakurey.

Fakta lain yakni pada peradaban kedua yakni Negara dan Idiologi yang menjadi penggerak kunci. Peran Negara dan idiologi sangat besar. Negera memfasilitasi masyarakat dan ikut menggerakan masyarakat melalui pendekatan pemerintahan yang baik (God Governance) dengan menerapkan prinsip-prinsipnya untuk mengalami transformasi social ke arah yang lebih baik.

Masih menurut Beny, faka peradaban ketiga yakni masyarakat masuk ke ekonomi pasar penguasaan informasi. Menurutnya, potensi Mamberamo Raya sangat besar dan kaya. Karena Mamberamo Raya berada di lempengan benua yang strategis di dunia dan berada pada 134 derajat – 136 derajat bujur timur. Mamberamo Raya juga bagian dari kawasan persinggungan dari dua benua (selatan dan utara) yaitu Erasia dan Gontwama dari pecahan benua purba panggea.

“Sehingga dia (Mamberamo Raya) menjadi area geografis yang kaya dan unik di dunia setelah Amazon di Brasil dan Kilimanjaro di Afrika. Karena dia kaya baik dari sisi keragaman genetiknya atau plasma nuftanya yaitu flora dan fauna yang dapat diperbaharui, tapi juga Mamberamo Raya menyimpan minyak dan gas, bahan tambang yang kaya di dunia,” tandas Beny saat memandu peserta Raker I KNPI Mamberamo Raya.

Karena Mamberamo Raya kaya di tengah masyarakatnya yang sub system, maka Mamberamo Raya penuh resiko. Pasalnya semua orang kaya dan bermodal akan datang ke Mamberamo Raya. “Kalau masyarakat belum siap, akan menjadi susah,” kata Beny memprediksi tentang Mamberamo Raya yang akan menjadi korban.

Menurut dia, Kabupaten yang dipimpin Bupati Demianus Kyeuw-Kyeuw ini berada di kawasan Hinterland (daerah belakang) dari badan pengembangan ekonomi terpadu di Pasific Barat Daya. Dengan demikian, Mamberamo Raya ada dalam scenario global atau pusat pertumbuhan ekonomi dunia di Pasific Barat Daya. Indikatornya kata Beny, ditandai dengan pembangunan SPBU di Biak, selain pengembangan Bandara Frans Kaisiepo. Selanjutnya di Serui pembangunan jalan Saubeba dan Bandara Kamanap. Di Waropen sebagai  daerah yang bersentuhan dengan Mamberamo Raya juga dikembangkan Bandara Udara Epawa Bina Tanah Boah dan pelabuhan Koweda dan jalan Trans Waropen.

Selanjutnya di Mamberamo Raya akan dibangun pusat DAM sebagai bendungan untuk listrik dengan kekuaan ribuan mega amper. Semua itu katanya untuk melengkapi cita-cita ekonomi global, sebagai tindak lanjut hasil KTT Marakes tentang pelaksanaan WTO 2020. Kawasan Mamberamo Raya katanya merupakan bagian dari APEC sebagai terusan pelaksanaan WTO di Pasifik. Kawasan ini lanjut Beny, keseluruhannya disebut Gelvink Bay (Teluk Cenderawasih) dimulai dari Ymurmusba sampai Tanjung Doorvile (Indomba).

Peradaban keempat yakni manusia conscious teknologi yaitu manusia berpengetahuan  dan berhati nurani yang baik dan mereka tidak dibatasi oleh ruang dan waktu dalam konteks Yuridiksi Nasional suatu Negara bangsa. Pada fase ini kata Beny, mereka tidak terikat oleh Negara. Karena kinerjanya dipakai di seluruh dunia. Mereka tidak terikat struktur, tapi pikirannya lintas Negara.

Sebagai kesimpulannya kata Beny Ruatakurey, persoalan di Mamberamo Raya adalah bagaimana merubah pola hidup sub system ke ekonomi pasar. Pemerintah sebagai fasilitator diharapkan untuk memfasilitasinya agar masyarakat dapat merubah pola hidup konsumtif ke produktif dan menjaga juga supaya tidak terjadi gegar budaya (culture shock) agar orang Mamberamo Raya siap bersanding dengan kelompok peradaban empat yang sebagian dari mereka tergabung dalam Group The Economic High Man yang mengintip Mamberamo sebagai sumber masa depan mereka. (J/03)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *