Distrik Sukikai Selatan Masih Milik Pemkab Dogiyai

JUBI — Pemerintah Kabupaten Dogiyai secara tegas mengakui Distrik Sukikai Selatan sebagai wilayah pemerintahannya berdasarkan UU Nomor 8 Tahun 2008 tentang pembentukan Kabupaten tersebut.

Penegasan ini disampaikan oleh Sekertaris Daerah (Sekda) Pemerintah Kabupaten Dogiyai, Drs. Fabianus Yobee, menyikapi berbagai isu yang beredar bahwa distrik Sukikai Selatan telah masuk wilayah Mimika.

“Pemerintah Kabupaten Dogiyai masih mengakui wilayah ini sebab sesuai Undang-Undang pembentukan kabupaten ini merupakan bagian tidak terpisahkan,” ujar Drs. Fabianus Yobee, kepada pers di Jayapura, Selasa (30/8).

Dijelaskan, bahwa sesuai UU Nomor  8 Tahun 2008 tentang pembentukan Kabupaten Dogiyai, dalam pasal 3 ayat (1) disebutkan cakupan wilayah  Kabupaten Dogiyai berasal dari sebagian wilayah Kabupaten Nabire yang terdiri  dari Distrik Kamu, Mapia, Kamu Utara, Sukikai, Sukikai Selatan, Mapia Barat dan Distrik Kamu Selatan.
“Sedangkan ayat (2) disebutkan sesuai ayat (1) digambarkan dalam peta wilayah yang tercantum  dalam  lampiran dan merupakan bagian yang tak terpisahkan dari undang-undang ini,” kata Yobee.

Sementara itu, Kepala Bagian (Kabag) Pemerintahan Kabupaten Dogiyai, Markus Airuri, S.Sos, M.Si, menegaskan bahwa  dasar hukum penegasan batas wilayah adalah UU 32/2004 tentang Pemerintahan Daerah serta Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 1 Tahun 2006 tentang Pedoman penegasan batas daerah.
“Kami bukan mengklaim, melainkan mengacu pada undang-undang yang ada, sebabnya tahapan penegasan batas yang diperlukan yakni akan dikumpulkan dan teliti dokumen serta pemasangan pilar batas serta pembuatan peta batas wilayah,” paparnya.

Dalam tahapan penegasan, katanya, akan diakhiri pengusulan dan penetapan batas wilayah dengan peraturan menteri dalam negeri (Mendagri).
“Kami tidak pernah mengakui atau menyetujui wilayah ini masuk Kabupaten Mimika, sebab pembangunan yang berjalan selama ini berasal dari bantuan Pemerintah Daerah Dogiyai,” tandas Kepala Distrik Sukikai Selatan, Tobias F Bunapa, mengakhiri wawancara dengan wartawan. (J/O5)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *