Korban Penangkapan Polisi Mengaku Disiksa

JUBI — Ketiga warga sipil yang ditangkap oleh polisi bersama dua rekan lainnya pada 31 Agustus lalu dibawah pimpinan Kapolresta Jayapura, AKBP Imam Setiawan,  mengaku disiksa dan dianiaya. Penyiksaan dan penganiayaan terjadi ditempat tinggal mereka di kompung Horas, Skylend Abepura.

Pengakuan tersebut terungkap saat ketiga saksi dari warga sipil yang ikut menjadi korban penangkapan kala itu, dalam persidangan Praperadilan yang berlangsung di Kantor Pengadilan Negeri Klas I A di Abepura, Rabu (28/9) siang. Biben Kogoya, ketua RT 07 Kampung Horas saat ditanya oleh pengacara hukumnya, Gustaf Kawer soal insiden itu, Biben mengatakan, saat itu dirinya disiksa dengan cara dipukul dengan popor senjata. Selanjutnya, polisi membawanya keluar dari rumah, dia dipukuli lagi dengan kayu batang merah disekujur tubuh.

“Waktu saya dapat pukul dengan kayu batang merah itu, saya punya keluarga sedih dan menangis karena mereka lihat saya dapat pukul terus menerus,” ungkap Biben saat diperiksa sebagai saksi. Tak hanya disiksa, lanjutnya, aparat keamanan juga mengeluarkan kata-kata kotor berupa hujatan dan penghinaan terhadapnya.

Sesudah itu, dia dibawa ke sebuah rumah kosong yang dijumpai salah satu anggota polisi. Dirumah kosong itu, ada sebuah lubang yang digali dan ditutup rapi dengan tanah. Diatasnya, ditaruh alang-alang. Aparat menyuruh Biben menggali lobang tersebut, namun Biben takut. Dia  menolak. Polisi lalu mengambil tindakan dengan menggali lubang tersebut.

Dari penggalian itu, mereka menemuka satu buah senjata dobolof, satu senjata laras panjang dan satu buah buku soal Organisasi Papua Merdeka. Barang temuan tersebut ditanya kepada Biben, namun dirinya tidak mengetahui pemiliknya, akhirnya polisi mengisi barang tersebut kedalam kantong plastik dan dibawa ke Mapolresta Jayapura untuk dijadikan barang bukti dan penyelidikan  lebih lanjut.

Kesaksian lain yang disampaikan Biben, saat itu korps berbaju cokelat itu yang turun ke lokasi,  tak menunjukkan surat penggeledahan, penangkapan, surat pemberitahuan kepada keluarga dan penyitaan barang. “Waktu itu tidak ada surat yang ditunjuk kepada kami. Mereka langsung tangkap dan sita barang-barang kami,” paparnya.

Metius Kogoya, saksi berikutnya yang juga menjadi korban tangkapan mengakui hal serupa. Kata dia, ketika itu semua rekan-rekannya dikumpulkan disatu tempat lalu disiksa. Mereka saat itu sebanyak 13 orang. Dirinya menyatakan, sejak itu tak surat yang ditunjukkan. Selain itu, ketika dibawa keluar dari Tempat Kejadian Perkara (TKP) lalu diperiksa di Mapolresta Jayapura, tidak diberikan makan sejak sore hingga pagi hari. “Pagi hari baru kami dapat kasi makan. Sedangkan dari sore sampai malam, kami tidak kasih makanan, hanya air minum saja,” tandasnya.

Selanjutnya, Segi Kogoya, seorang mahasiswa STT Baptis di Kotaraja yang juga ikut dijarah polisi mengungkapkan, ketika aparat datang ke lokasi, mereka langsung mengepung rumah. Tak memakan waktu lama, langsung memasuki rumah dan menyuruh para korban keluar. “ Waktu itu, sore harinya, kami kumpul dirumah pa RT untuk bicarakan kesiapan acara natal nanti. Setelah itu kami tidur tapi langsung polisi masuk dan geledah rumah dinihari. Masih dalam keadaan tidur tapi kaget,” tuturnya.

Dia mengaku, penyiksaan hebat mendera mereka ketika dibawah keluar. Saat diluar rumah, masing-masing korban disuruh merayap. Sebagian ditendang dan dipukuli termasuk dirinya. Segi menyebut, dirinya ditendang dengan sepatu laras dibagian perut sebanyak tiga kali. Ia juga dipukuli dengan popor senjata di kepala.

Ketiga saksi menyatakan, puluhan barang milik mereka disita polisi. Diantaranya, jubi beserta busur dan satu ikatan panah, parang, dan jam tangan. Peristiwa tersebut terjadi sekitar pukul 05.00 WIT. “Banyak barang-barang yang polisi bawa ke Kantor Polres Jayapura untuk diselidiki waktu itu,” ujar Segi.

Sementara itu, KAUR Reskrim Polresta Jayapura, Seranjjut saat diperiksa sebagai saksi, membatah kalau pihaknya melakukan kekerasan terhadap warga sipil. “Kami tidak pukul dan siksa mereka. Saat itu anggota hanya memisahkan mereka lalu menanyakan mereka dengan baik,” kata Seranjjut saat ditanya hakim.

Seranjjut menandaskan, ketika itu mereka menunjukkan surat penangkapan kepada korban. Surat pemberitahuan juga ditunjukkan. Polisi  juga menunjukkan surat penggeladahan dan penyitaan barang. “Waktu itu kami bawah surat dan kasi tunjuk,” paparnya.

Saksi lain, Jhon Defretes , anggota polisi, juga menyampaikan hal serupa. Defretes dan Seranjjut mengaku, sejak itu, aparat kepolisian membawa puluhan barang milik warga dari satu rumah yang terletak dikawasan itu. “Barang-barang itu terpaksa kami bawa ke Polresta karena kami tanya tapi tidak ada mengaku kalau barang itu miliknya,”  kata saksi kedua dari polisi, Aleks N. Orailey diakhir kesaksiannya.  (JUBI/Musa Abubar)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *