Pertengahan Sidang Praperadilan Tegang

JUBI — Pertengahan persidangan praperadilan gugatan terhadap Kapolresta Jayapura, Papua, AKBP, Iman Setiawan yang berlangsug sejak pagi siang tegang. Ketegangan terjadi ketika pengacara hukum dari 15 warga sipil meminta keterangan dari saksi atas nama Aleks N. Orailey dari kepolisian.

Ketengan bermula ketika Gustaf Kawer, kuasa hukum dari lima belas warga sipil yang ditangkap meminta kejelasan soal penyitaan dan penyidikan barang bukti. Gustaf menilai, kepolisian dua kali melakukan penyelidikan. Pertama, mereka sudah melakukan penyelidikan terhadap kasus pembakaran mobil beserta sipirnya di Skyland Jayapura, 2 Juli lalu.

Dari penyidikan yang dilakukan, aparat keamanan ini menemukan satu pasang sepatu skets yang diduga kuat milik Etinus Kogoya. Dari temuan itu, polisi lalu menetapkan Etinus Kgoya, Panius Kogoya dan Dani Kogoya masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO). Mereka juga disinyalir terlibat dalam kasus penembakan di Kampung Nafri, 1 Agustus.

Keterangan ini disampaikan Aleks saat menyampaikan kesaksiannya dimuka sidang. Yang menjadi pertanyaan bagi Gustaf, mengapa korps berbaju cokelat ini datang ke lokasi Horas kemudian meyita lagi puluhan barang milik warga dari dalam rumah. “Barang ini kan milik orang. Karena, diambil dari dalam rumah. Sebenarnya tidak boleh,”tegas Kawer.

Seharusnya, kata Kawer, dari barang bukti yang sudah didapat, polisi hanya mencari Etinus Kogoya bersama dua rekannya lantaran mereka sudah masuk dalam DPO. “Kenapa langsung lima belas orang lainnya ditangkap,” tandasnya. Dari pertanyaan itu, Aleks N. Orailey naik pitam.

Aleks dengan nada tegas mengatakan, barang-barang tersebut bukan disita namun diambil untuk diperiksa lebih lanjut di Mapolresta Jayapura lantas tak ada pengakuan kepemilikan dari warga setempat. “Woi….. woi.. woi.. sudah jelas, sudah jelas, sudah jelas,” teriak anggota polisi dan anggota intel yang berada disekitar ruangan sidang.

Dari teriakan itu, Hakim Ketua, I Ketut Suarta mengetuk palu sebanyak tiga kali dan meminta kuasa hukum dari warga sipil memberhentikan pertanyaannya. Namun, Gustaf tetap ngotot  melanjutkan pertanyaan. Ketegangan tersebut tak membuahkan kericuan. Meskipun emosi, Aleks dengan sabar menjawab pertanyaan itu. Ketegangan pun berangsur-angsur normal.  

Usai pemberian keterangan, hakim menunda sidang. Persidangan praperadilan selanjutnya akan digelar pada Kamis (29/9) besok. Agenda sidang, mendengar kesimpulan dari masing-masing saksi. “Sidang kami tunda dan akan dibuka kembali pada besok pagi, Kamis, sekitar pukul 09.00 WIT,” ujar hakim ketua, I Ketut Suarta diujung sidang. (JUBI/Musa Abubar)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *