SPSI Akan Perlihatkan Intimidasi Manajemen PTFI Ke Dinsosnakertrans

JUBI  — Sesuai UU sepanjang melakukan mogok yang sah, perusahaan harus tetap membayar upah karyawan. Maka sesuai rencana, Kamis (29/9) Pengurus PUK SPSI PTFI akan ke Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) Kabupaten Mimika untuk menanyakan masalah yang dihadapi oleh karyawan kontrakan PTFI sejak aksi mogok berlangsung.

Demikian disampaikan Ketua Bidang Organisasi Pengurus Unit Kerja Serikat Pekerja Kimia Freeport, Virgo Solossa, saaat aksi ke-12, Senin (26/9) kemarin, di depan ribuan pekerja yang masih melakukan aksi mogok di depan pintu masuk Kuala Kencana check point 32.

Disampaikan bahwa pihaknya akan menunjukkan slip gaji untuk memperlihatkan intimidasi manajemen terhadap karyawan yang bergabung dalam SPSI.

“Surat yang kami sampaikan Dinsosnakertrans langsung
menanggapi dengan meminta 15 orang dari kami untuk bertemu, padahal kami baru mau menyampaikan surat menginginkan pertemuan pukul 17.00 WIT sore ini (Senin, 26/9),”

Pihakya  menghimbau yang mendapat intimidasi berupa ancaman non aktif dan sebagainya agar berkumpul untuk menuju Polres Mimika, menyampaikan surat pengaduan.

“Saat ini potensi kekacauan sangat besar dimana kita selalu diintimidasi. Setelah langkah tersebut kami harapkan pihak-pihak terkait lebih menempatkan diri di posisi netral,” katanya.

Pihaknya mengakui kepada ibu-ibu yang merupakan keluarga karyawan kontrakan PTFI apabila pada proses penggajian nanti ada sesuatu yang berbeda, maka  itu adalah bagian dari perjuangan SPSI.

“Apabila tanggal 28 September 2011 manajemen melakukan pengurangan upah, maka manajemen akan membayar mahal hal tersebut, sebab dengan kebersamaan makan kita pasti berhasil,” ucapnya dengan penuh keyakinan.

Sementara itu, Ketua PUK SPSI PTFI, Sudiro, mengajak kepada semua karyawan untuk tetap bersyukur kepada Tuhan karena semua pekerja masih sehat.

“Cara-cara yang ditempuh manajemen haruslah yang
sesuai dengan aturan main yang ada dan telah disepakati.
Bukan melalui cara-cara yang tidak adil, intimidasi dan
menciptakan konflik.  jadilah ksatria bukan pecundang,’ ucap Sudiro, dalam orasinya, Senin (26/9) kemarin.

Ancaman yang saya terima, katanya,  saya anggap sebagai bunga
perjuangan saya. Setiap pertemuan saya selalu menghimbau
untuk tertib dan tidak anarkhis. Ini menunjukkan kepada
dunia bahwa kita sesuai aturan dan membuka hati mereka.


“Kita tunjukkan bahwa kita bangsa yang berbudaya tinggi.
Besok kalau ada intimidasi kita ke Polres untuk membuat
laporan. Sebagai warga negara kita juga perlu dilindungi.
Pahlawan devisa perusahaan adalah pekerja. Pekerja tidak
minta banyak tapi kesejahteraan. Hak kami yang disunat kami
minta dikembalikan,” tandasnya.

Pihaknya mengajak semua untuk percaya kepada pengurus. Ia juga mengatakan mereka membutuhkan
kesungguhan dari seluruh pekerja.
“Ini perang urat syaraf, bapak-bapak pekerja harus sabar berikan pengertian yang
baik kepada istri-istri. Hidup adalah pilihan, nilai dan
perjuangan.” ujar Sudiro. (J/05)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *