Warga Yang Ditangkap Polisi Sesali Putusan Hakim

JUBI — Keputusan hakim Pengadilan Negeri Klas I A Jayapura, I Ketut Suarta yang memenangkan tindakan polisi, disesalkan. Warga sipil yang menjadi korban ketika itu tak terima.

“Cara-cara ini yang saya tidak mau. Kami tidak tau persoalan tapi dikepung dan ditangkap kemudian disiksa,” kata Biben Kogoya, salah satu korban dari 15 warga yang ditangkap dan disiksa oleh polisi ketika itu, kepada pers di Abepura, Jumat (30/9).

Ketua RT 07 Kampung Horas, Skyline ini, menuturkan seharusnya polisi menunjukkan bukti dalam sidang. Karena saat itu, tak ada satu pun surat yang ditunjukkan kepada mereka. “Harusnya bukti-bukti ini ditunjukkan dalam sidang. Jangan main tangkap sembarang tapi tidak ada bukti,” ungkapnya. Hakim dinilai tidak adil dalam mengambil putusan.

Peres Wenda, anggota tim investigasi 15 warga yang ditangkap polisi ketika itu menuturkan, dirinya sangat kecewa dengan putusan tersebut. Bagi dia, hal ini menandakan tak ada keadilan bagi orang Papua. “Ini bukti, sampai sekarang ketidak adilan tidak berpihak pada orang Papua,” kesal Peres.

Kata Peres, fakta-fakta yang didapat oleh tim investigasi, tidak setara dalam persidangan. Meski demikian, ia berharap ada kejadian yang sama menimpa warga, harus diajukan ke pengadilan. Walaupun, ruang untuk mendapat keadilan sempit. “Kalau ada kejadian seperti ini harus diajukan,” tuturnya.

Kekesalahan dan kekecewaaan yang sama juga disampaikan Marthen Goo, anggota tim investigasi lainnya. Marthen mengaku, kecewa karena pembohongan dari kepolisian dibenarkan oleh hakim. “Kami kecewa dan kesal dengan keputusan ini,” ucapnya.

Sementara itu, Harry Maturbongs, salah satu anggota kuasa hukum para korban menyatakan, ada kerugian dalam keputusan praperadilan yang baru saja berakhir. Ada fakta penyiksaan terhadap korban. Soal penyiksaan itu, indentifikasi dan penyelesaian perlu dilakukan oleh negara. Lantaran, hingga kini tak ada aturan hukum yang dipakai. “Mungkin negara bisa keluarkan sebuah aturan yang mengatur soal penyiksaan. Karena, sampai sekarang belum ada aturan. Sehingga korban disiksa dianggap biasa,” imbuhnya. (JUBI/Musa Abubar)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *