Kisruh PSSI : LPI vs ISL

JUBI—Konflik kedua penyelenggaraan kompetisi ini telah berlangsung tahun lalu sebelum lengsernya Nurdin Khalid. LPI semula lahir dengan sebuah cita-cita membangun kompetisi sepakbola di Indonesia yang bebas  APBD atau anti APBD. Begitu pula mencanangkan cita-cita untuk pembinaan usia dini.

Untuk  sebuah cita-cita membangun sepakbola yang berkualitas sudah pasti semua pihak menerima. Tapi kompetisi LPI hanya berjalan enam bulan dan cita-cita membina pemain usia dini pun tak ada. Jangan bicara usia dini, kompetisi untuk U21 saja tidak terselenggara.

Berbeda dengan kompetisi ISL yang selalu berbarengan dengan kompetisi U21. Memang harus diakui kompetisi ISL juga ada kekurangan tapi setidaknya mampu membangkitkan gairah sepak bola di Indonesia termasuk Papua. Persipura salah satu klub yang beruntung dalam kompetisi ISL. Hampir sebagian besar pemain Papua adalah jebolan Persipura U21. Sebut saja misalnya Titus Bonay, Octo Maniani, David Laly, Vendri Mofu. Lukas Mandowen, Petrus Asmuruf.

Ini berarti kompetisi ISL U21 banyak memberikan hasil nyata dengan melahirkan banyak pemain bintang. Bukan hanya itu saja kompetisi ISL juga telah mendorong semangat penonton untuk datang ke stadion menyaksikan secara langsung pertandingan setiap kompetisi.

Kini PSSI era Djohar Arifin bukan memperbaiki kekurangan  selama kompetisi di era Nurdin Khalid dan melanjutkannya tetapi justru membekukan dengan alasan sedang diaudit.Padahal mestinya segala keputusan harus melalui konggres. Begitulah Djohar Arifin yang selalu menabrak statuta PSSI.

Polemik penyelenggaraan Liga Indonesia ditenggarai akibat peran PT Liga Prima Indonesia (LPI).Hampir kebanyakan PT LPI yang dihuni oleh mantan pengurus Liga Primer Indonesia itu dianggap sengaja “mengkudeta” PT Liga yang sebelumnya jadi pengelola sah Liga Super Indonesia (ISL).

Perlawanan eks klub ISL yang tergabung dalam Kelompok 14 ini dinilainya sebagai konsekuensi akibat keputusan semena-mena PSSI. Ketua umum Persipura Tommy Benhur Mano  mengatakan Persipura akan bermain di LPI dengan memberikan syarat kepada PT Liga Primer Indonesia Sportindo (LPIS), antara lain pertama, tim juara Liga Indonesia harus menjadi tuan rumah dan bermain pada laga pembuka. Faktanya pada 15 Oktober lalu bukannya Persipura yang berlaga justru Persib Bandung dan Semen Padang dengan skor imbang 1-1.

Kedua, berpegang pada hasil kongres kalau klub yang berkompetisi sebanyak 18 klub.Faktanya yang ikut kompetisi 24 dan yang daftar baru 18 klub minus 6 klub milik Nirwan Bakrie. Ketiga, pemegang saham klub sebanyak 99 persen dan PSSI sendiri hanya satu persen saja. Ternyata 70 % untuk Ketua Umum PSSI dan 30 % untuk Wakil Ketua Umum.

Ternyata lengsernya NK tak mampu membendung masalah sepakbola di Indonesia. Namun yang jelas dibalik semua ini ada dalang yang bikin  kisruh sepak bola. Pertaruhan antara Arifin Panigoro dengan bonekanya DjoharArifin versus mantan Wakil Ketua Umum PSSI Nirwan Bakrie masih terus berlangsung.

Bisakah dua pengusaha ini duduk bersama membicarakan sepakbola atau sebaliknya mengacaukan hingga para pemain hanya tinggal menunggu waktu meratapi nasibnya ke depan sebagai pesepak bola. Andaikata ISL dan LPI terus berseteru jelas memakan korban terutama anak-anak muda yang mulai menggantungkan hidupnya dengan sepakbola.(Jubi/Dominggus A Mampioper)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *