Lindungi Pekerja Dari AIDS Jadi Tema HAS 2011

JUBI — Hari AIDS Sedunia (HAS) 2011 memberikan penegasan pada stop HIV dan AIDS dan menghapus stigma serta diskriminasi di dunia kerja, sebagaimana HAS diperingati setiap tanggal 1 Desember.

“Hal tersebut dirancang untuk memberikan perhatian dan kesempatan strategis bagi berbagai upaya penanggulangan AIDS yang dilakukan oleh banyak pihak, termasuk pemerintah dan berbagai unsur dalam masyarakat lainnya seperti LSM dan berbagai individu yang terlibat,” ujar Media Relations Officer (MRO) Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Provinsi Papua, Dewi Wulandari, melalui release yang diterima tabloidjubi.com, di Jayapura, Rabu (30/11).

Menurut dia  hal ini juga dimaksudkan untuk mendemonstrasikan pentingnya upaya penanggulangan AIDS dan sebagai salah satu cara penggalangan solidaritas dalam upaya tersebut. Penetapan tanggal tersebut diadopsi oleh 140 negara di dunia dalam Pertemuan Menteri Kesehatan Sedunia untuk AIDS, di London pada Januai 1988.

Tema peringatan HAS Tahun 2011 di Indonesia adalah ”Lindungi Pekerja dan Dunia Usaha dari HIV dan AIDS”.  Sub-Tema peringatan HAS Tahun 2011 di Indonesia adalah  “Penanggulangan HIV dan AIDS di Tempat Kerja sebagai bagian dari Peningkatan Keselamatan dan Kesehatan Kerja”.  Slogan: “STOP HIV dan AIDS, Hapuskan Stigma dan Diskriminasi di Dunia Kerja”.

“Penanggulangan HIV dan AIDS di dunia usaha dan dunia kerja juga bertujuan untuk mencegah kerugian dunia usaha dan melindungi pekerja dari HIV dan AIDS. Salah satu upaya pencegahan HIV dan AIDS adalah mengurangi stigma dan diskriminasi terhadap Orang Dengan HIV dan AIDS (ODHA), baik pada masyarakat pekerja maupun masyarakat pada umumnya,” paparnya.

Orang yang terdampak/terkena HIV dan AIDS, katanya, tetap mempunyai hak yang sama termasuk hak untuk tetap bekerja. Pekerja dengan HIV tetap dapat bekerja secara produktif dan tidak menularkan HIV pada orang/pekerja lainnya melalui cara biasa.  “Dengan Demikian maka tidak ada alasan untuk mendiskrimnasikan seseorang dalam pekerjaannya hanya karena seseorang tersebut terdampak/terkena HIV dan AIDS,” tuturnya.

Diakui, Apabila orang terdampak/terkena HIV dan AIDS mendapat perlakuan stigma dan diskriminasi, maka yang bersangkutan akan termarginalisasi dan lepas dari jangkauan atau pelayanan program penanggulangan HIV dan AIDS.”Selanjutnya mereka berpotensi untuk menjadi sumber penularan HIV pada siapapun yang pada akhirnya akan menghambat keberhasilan program penanggulangan HIV dan AIDS secara keseluruhan,” ucapnya.

Dirinya berharap, Penyelenggaraan berbagai kegiatan dalam peringatan HAS Tahun 2011 dengan tema di atas, diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat khususnya dunia usaha dalam pencegahan penularan HIV dan penanggulangan  AIDS.

“Karena penyebaran HIV dan AIDS dapat terjadi pada siapa saja, dimana saja, dan pada seluruh lapisan masyarakat. Harapan lebih jauh adalah agar masyarakat peduli dan berupaya melindungi diri serta keluarganya dari penularan HIV,” ajak Dewi Wulandari.

Terlepas dari hal tersebut diatas, Menurut perkiraan UNAIDS di dunia ini setiap hari terdapat lebih dari 5.000 orang pengidap baru HIV dan AIDS yang berusia antara 15-24 tahun, hampir 1.800 orang yang hidup dengan HIV positif di bawah usia 15 tahun tertular dari ibunya, serta sekitar 1.400 anak di bawah usia 15 tahun meninggal akibat mengalami fase AIDS.

Data  ini menunjukkan kepada kita betapa besar resiko yang dihadapi kelompok penduduk usia muda saat ini.  Hal ini terjadi akibat masih kurang seriusnya penanganan masalah, sehingga timbul kesenjangan yang serius antara kebutuhan dan ketersediaan pelayanan untuk HIV dan AIDS.   (JUBI/Eveerth Joumilena)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *