Satu Desember Pelajar di Wamena Diliburkan

JUBI–-Isu-isu yang beredar  membuat masyarakat di seluruh tanah Papua merasa tidak aman, hingga membuat sejumlah sekolah terpaksa meliburkan pelajar di sekolah-sekolah. Hampir sebagian besar sekolah di Wamena diperkirakan libur, jelang 1 Desember. Hal ini dilakukan guna menghindari peristiwa di luar dugaan bersama.

Hal iini diungkapkan Richar Meo guru mata pelajaran matematika di SLTP YPPK St. Thomas Wamena kepada tabloidjubi.com, Rabu (30/11) sore. “isu-isu yang membuat kita tidak nyaman. Besok ini semua sekolah-sekolah libur,”katanya.

Sekolah-sekolah diliburkan untuk mengantisipasi isu-isu yang berkebang di tengah masyarakat pada tanggal 1 Dsember besok. “Seolah-sekolah libur mengantisipasi isu katanya ada aksi dari masyarakat besok, ” ujar Richard.

Keputusan libur itu tidak datang dari pemerintah maupun Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Jayawijaya  melainkan keputusan pihak sekolah. Pihak sekolah mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan dengan kebijaksaannya sendiri. “Libur ini tidak ada dari pemerintah melainkan kebijaksanaan dari sekolah-sekolah,” katanya.

Sementara itu, dari Kota Sorong, Aloiusius  mengatakan masyarakat resah dengan isu-isu yang berkembang beberapa minggu terakhir ini.  Isu yang paling heboh menurutnya penyerangan terhadap kompleks-kompleks misi gereja Katolik.

“Beberapa minggu lalu itu tersebar isu yang cukup meresahkan masyarakat termasuk di Seminari yakni akan ada penyerangan terhadap kompleks misi,”katanya kepada tabloidjubi.com melalui telepon seluler, Rabu (30/11)

Isu penyerangan itu diperkuat dengan kepulangan mahasiswa/I Papua asal Sorong yang kuliah di Jawa dan Makasar menjelang 1 Desember.  Allo mengatakan dirinya telah memananyakan alasan kepulangan para mahasiwa/I itu. Para mahasiswa itu pulang dengan alasan pemberitahuan pemerintah setempat.

“Isu ini diperkuat dengan kepulangan sebagian mahasiswa/I Papua yang sedang kuliah di Jawa, Makasar dsb. Ketika saya tanya anak mahasiswa yang pulang . Mereka pulang karena alasannya pemerintah setempat yang menyuruh mereka untuk kembali ke Papua. Benar atau tidak saya juga tidak tahu tetapi itu pengakuan mereka,”katanya.  (Jubi/Voxpopa)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *