Tak Sulit Tentukan Perwakilan Papua Untuk Dialog

JUBI — Tidak sulit menentukan tokoh-tokoh Papua untuk mewakili masyarakat dalam berdialog dengan pemerintah pusat di Jakarta. Apalagi dialog ini merupakan kerangka dialog yang kreatif yang harus dimediasi pihak ketiga.
Hal ini diungkapkan Pendeta Socratez Sofyan Yoman menanggapi dan membantah dugaan utusan Presiden SBY Farid Husain pada BBC London yang menyebutkan agak sulit menentukan utusan Papua untuk berdialog karena ada sejumlah faksi yang berbeda baik di tubuh gerakan Tentara Pembebasan Nasional Organisasi Papua Merdeka maupun petinggi politiknya.

“Bagi dia sulit, tapi bagi kami tidak sulit. Ada orangnya,” kata Socratez kepada tabloidjubi.com, di Abepura, Papua, Rabu(30/11).
Dialog yang dimaksud, kata dia, merupakan kerangka dialog yang kreatif, yang dimediasi pihak ketiga sebagaimana rekomendasi Konferensi Perdamaian Papua (KPP) 5-7 Juli lalu di auditorium Universitas Cenderawasih (Uncen).

Dalam rekomendasinya, KPP merekomendasikan lima juru runding internasional dari Papua, yaitu, Otto Mote di Amerika Serikat, Benny Wenda di Inggris, Leoni Tanggahma di Belanda, Oto John Ondowame di Vanuatu, dan Rex Rumakiek di Australia. Sedangkan yang ditunjuk sebagai negosiator adalah Eni F. Faleomavaega anggota Kongres Amerika, dan Koffi Annan, mantan sekjen PBB.
Menurut dia, Husain hanya mempunyai tugas untuk memfasilitasi, bukan menentukan siapa utusan orang Papua untuk berdialog.
Seperti dilansir bbc.co.uk, bahwa, menurut Husain, masalah di Papua agak rumit, dan utusan untuk berdialog agak susah.
“Di sana ada terlalu banyak faksi, saya cuma membagi dua, politik dan tentaranya atau TPN. Nah di dalam tentaranya itu ada lagi faksi yang berbeda, ada yang di pesisir, pegunungan dan perbatasan. Masing-masing ada panglima dan masing-masing saling tidak mengakui panglima,” kata Farid Husein seperti dilansir www.bbc.co.uk, 23 November 2011.
Berbeda dengan Lambert Pekikir, pimpinan OPM wilayah Victoria, di Kabupaten Keerom. Bagi dia, dialog tak perlu karena akan menambah masalah bagi warga Papua. (JUBI/Timo Marten).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *