Pelanggaran HAM Kembali Terjadi di Timika

JUBI—Masyarakat sipil di Kabupaten Mimika kembali ditembak aparat keamanan negara. Jika dilakukan secara membabibuta, termasuk kasus pelanggaran Hak Azasi Manusia (HAM) berat.

“Kenapa Polisi atau Brimob dan TNI selaku pelaku penembakan warga sipil tak melakukan pendekatan persuasif? Jikalau itu rakyatnya sendiri, hendaknya militer Indonesia melakukan pendekatan manusiawi,” kata Ketua Sekretariat Keadilan dan Perdamaian (SKP) Keuskupan Timika, Frater Saul Wanimbo, Pr, Kamis (1/12).

Aksi penembakan secara beruntun kali ini dilakukan aparat keamanan karena warga merayakanHari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Bangsa Papua Ke-50. Terlepas dari kepentingan politik Papua, salah seorang korban yang kena peluru di ruas tulang belakang mengatakan, kemerdekaan bagi bangsa Papua sudah berdaulat tahun 1961. “Kalau sudah dinyatakan merdeka tahun 1961, kenapa sampai detik ini masih terjadi  penembakan. Ini illegal dan saya menilai pelanggaran HAM berat,” ungkap Vicky, korban lainnya, Kamis (1/12), usai masa dibubarkan paksa sekitar pukul 11.00 WIT, waktu setempat.

Berbeda dengan kelompok masyarakat sipil lainnya. Bagi Finus, aksi kenaikan bendera dan berkumpul dan berserikat adalah hak tiap warga negara. “Tadi malam kami ikuti berita di internet dan televisi, bahwa jika berkumpul dan berserikat adalah hak azasi manusia. Tapi kenapa ketika kami menaikkan bendera kebangaan kami, malah kami ditembak? Lebih baik pasukkan militer Indonesia ini ditarik dari Tanah Papua!” tandas Finus. (Jubi/Amer Pits)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *