Bintang Kejora Berkibar di Timika, Warga Tertembak

JUBI—Aksi penembakan terhadap warga sipil di Papua terulang kembali di Timika, pada Kamis (1/12). Aksi penembakan itu mengenai sejumlah warga sipil ketika bertepatan dengan perayaan hari ulang tahun (HUT) kemerdekaan Bangsa Papua.

Para korban yang tertembak diantaranya, Vicky Wanmang, Feronika Anggaibak, dan Alfinus Wanmang. Selain itu, ada korban lain yang disebutkan oleh warga adalah Hilarius Dolame, Marel Magai, Norbertus Timang dan dua orang tak dikenal.

Sehingga situasi ketegangan sudah tampak sejak pagi, sekitar pukul 08.00 waktu setempat. Sebelumnya, para aparat keamanan dari Kesatuan Brimob, Polisi dan TNI sudah siaga I, hingga sejumlah ruas dan jalanan di pinggiran Kota “Emas” Timika itu. Ketegangan sipil terhadap militer Indonesia, juga disebabkan karena aparat Indoensia berperalatan lengkap dengan senjata, alias pasukan siap tembak.

Jauh sebelum perayaan disambut oleh warga sipil, aparat militer Indonesia juga sempat melarang perayaan hari peringatan tersebut, seolah-olah menolak perijinan yang dikeluarkan oleh aparat keamanan. Dimana warga sipil Papua tak dinjinkan untuk berkumpul dan merayakan peringatan hari ulang tahun (HUT) kemerdekaan Papua ke-50.

Lebih ironis lagi, aksi pembubaran paksa terhadap perayaan hari kebesaran orang Papua itu diwarnai dengan aksi penembakan. “Tanpa surat Brimob telah menembak secara membabi-buta sekitar pukul 11.30 waktu setempat, atas perintah kapolres dan Wakapolda Papua,” ungkap Mama Yosepha Wanmang, dalam temu korban yang dilakukan oleh staff, Kamis (1/12) siang.

Seperti yang disaksikan tabloidjubi.com, aksi menembak atau tidak, sangat ditentukan oleh Kapolres Mimika, AKBP Siregar. Katika masa yang berapi-api dan besemangat mengkibarkan Bendera Bintang Kejora, terpaksa dihentikan kapolres dengan perintah tegas secara langsung ke anak buahnya yang bersiaga, mengelilingi kerumunan masa sekelilingnya. “Ayo kemari-kemari dan bubarkan segera!” tegas Kapolres Mimika, Siregar, ketika mendekati tiang bendera di tengah Lapangan Timika, menggunakan Panser Barakuda Brimob, sekitar 11.30 waktu setempat.

Kemudian diikuti oleh seorang Brimob menggenakan senjata, mendekati dan menembak tiang bendera, sekaligus memutuskan tali tiang Bendera Bintang Kejora yang sedang berkibar kurang lebih 40 menit lamanya. Usai Bendera Bintang Kejora jatuh ke tanah, personil Brimob menembakan pelurunya ke arah massa. Massa pun lari berantakkan dan terlihat beberapa warga sipil berjatuhan.

Salah satu korban tembak, Feronika Anggaibak, mengatakan, peluru mengenai tubuhnya lebih satu kali. Dua kali tembakan di lengan kiri dan kanan. Bahkan satu timah panas masih berada di pahanya. Kini dia dilarikan ke rumah sakit setempat, guna mendapatkan pengobatan. “Setelah saya selamatkan bendera (Bintang Kejora-red) yang jatuh, lalu saya ditendang. Tapi biasa saja. Kemudian saya jatuh lagi yang kedua. Saya jatuh karena Brimob tembak saya. Tapi saya masih paksa berdiri, melompat dan koprol. Dua peluru yang ditembak, hanya kikis dua lengan saya. Satunya kena bagian paha, itu yang saya tak kuat berdiri,” katanya.

Viktus, korban tembak lainnya memberi saksi, bahwa ketika penembakan membabibuta dilakukan polisi, terlihat para petinggi polisi di daerah ini terlihat hanya tegak berdiri, sambil memerintahkan anggotanya melepaskan peluru hingga berkali-kali. “Padahal sudah ada surat ijin. Tapi Kapolres perintahkan untuk tembak, dan yang maju melepaskan peluru adalah Brimob, “ ujar Viktus, korban luka lainnya. Hingga berita ini ditulis, identitas dan jumlah korban belum lengkap. Tapi dikabarkan masih ada korban lainnya yang belum terdata. (Jubi/Almer Pits)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *