Tokoh Agama Paniai Bantah Pemberitaan

JUBI—Oktovianus Pekei, S.S, salah satu Tokoh Agama di Kabupaten Paniai, menyatakan tidak pernah menutupi fakta-fakta yang terjadi selama sebulan terakhir di wilayah Kabupaten Paniai. Berita yang dipublikasikan Vivanews.com dengan mengutip komentarnya beberapa hari lalu, terkesan memutarbalikkan fakta dengan tujuan tertentu.

“Berita di Vivanews.com hampir sama di koran Bintang Papua edisi Selasa 20 Desember 2011. Juga hari ini di The Jakarta Globe. Isinya sama dan wartawan yang menulisnya juga sama. Pada kesempatan ini, saya harus klarifikasi atas pemberitaan yang sangat tidak sesuai dengan apa yang saya bicara pada saat konferensi pers di Mapolres Paniai di Madi baru-baru ini,” tutur Oktovianus Pekei kepada tabloidjubi.com di Enarotali, Sabtu (24/12).

Berita yang diklarifikasinya adalah http://nasional.vivanews.com/news/read/273688-markas-dikuasai–warga-takut-opm-balas-dendam; http://www.thejakartaglobe.com/news/papuan-villagers-fear-opm-revenge-after-police-attack/486724; dan http://bintangpapua.com/headline/18157-opm-bisa-balas-dendam.

Penulis berita itu, menurut dia, tidak menjaga independensitas sebagai wartawan. Justru sebaliknya, membuat interpretasi berlebihan. “Bahasanya ditambah-tambah oleh wartawan. Saya tidak berbicara seperti yang ditulisnya di dalam Vivanews.com, The Jakarta Globe dan Bintang Papua,” tegas Oktovianus Pekei, Ketua Komisi Sekretariat Keadilan dan Perdamaian Dekanat Paniai Keuskupan Timika.

Ditulis dalam media itu, “Kami berharap aparat keamanan tetap siaga menjaga warga”. Oktovianus menegaskan, kalimat itu tidak pernah diungkapkannya. “Waktu itu saya bilang, Komandan Brimob dan Kapolres Paniai hendaknya batasi ruang gerak anggotanya, karena gerak bebas mereka justru meresahkan masyarakat di sini.”

Kutipan berikut yang diklarifikasinya, “Kalau tidak dipenuhi (permintaan TPN OPM), mereka (TPN OPM) tidak segan-segan membunuh”. “Saya tidak pernah bilang TPN OPM tidak segan-segan membunuh masyarakat kalau mereka tidak memenuhi permintaan TPN OPM. Yang saya katakan ialah kalau ada TPN OPM minta sesuatu “denda” kepada masyarakat biasanya karena ada alasan. Misalnya ada ungkapan kata yang menyinggung perasaan atau bahasa yang menyalahkan TPN OPM,” tutur Pastor Penanggungjawab Paroki Salib Suci Madi itu.

Ditulis lagi “Pasca markas OPM diduduki, warga tidak lagi ketakutan”. Hal ini juga ditanggapi Oktovinus Pekei, “Yang saya katakan, sejak pasukan Brimob tiba di Paniai, masyarakat sudah mulai takut dan bertanya-tanya ada apa di Paniai. Apalagi sekarang setelah markas TPN OPM dibakar. Masyarakat tambah takut dan sebagian besar warga mengungsi dan hingga sekarang belum kembali ke rumah mereka.”

Mengenai “14 orang tewas dan 70 rumah dibakar”, Oktovianus mengatakan, “mengenai hal itu kami tidak tahu, karena kami tidak punya akses untuk turun langsung ke TKP. Jadi hal itu sebaiknya tanya ke Komandan Brimob, Kapolres dan TPN OPM, karena mereka yang punya akses atau ada di TKP. Jadi, bahasa lain dalam berita itu ditambahkan oleh wartawan.

“Ada pula hal lain yang terdapat keganjilan dalam pemberitaan itu. Namun itulah kekurangan yang barangkali adalah lemahnya daya tangkap dari wartawan yang bersangkutan,” Oktovianus Pekei menilai.

Ia berkesimpulan bahwa wartawan tersebut berusaha memutarbalikkan keterangan narasumber sebagaimana dipublikasikan di tiga media itu. Terkesan juga adanya kerja sama oknum jurnalis dengan aparat keamanan di Paniai untuk menutupi fakta dan mempengaruhi publik bahwa persoalan di Paniai tidak seperti yang telah diberitakan hari-hari sebelumnya.

“Kalau bisa, untuk ke depan, wartawan tetap netral dalam mengekspos berita di media massa. Jika salah mengutip apalagi menambahkan kata dan bahasa dari penulis berita, akan berdampak buruk karena salah paham dari publik yang mengikuti pemberitaan tersebut,” harapnya.

Frater Oktovianus Pekei menambahkan, “Beberapa hari lalu saya tidak bisa ikuti berita di website, karena modem saya bermasalah, dan baru baca beritanya kemarin malam, saya kaget karena isi beritanya tidak sesuai apa yang saya bicarakan pada saat jumpa pers. Jadi, saya rasa hal-hal ini perlu saya klarifikasi melalui media massa yang ada.” (Jubi/MY)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *