Dialog Gagal, Wajah Indonesia di Papua Buram

JUBI—Dari hasil diskusi lepas yang digelar Kamasan Intitute, Kamis, (29/12) yang berlangsung di kediaman Wakil Ketua MRP, Pdt. Hofny Simbiak, di Kotaraja Kota Jayapura,  disimpulkan bahwa Rakyat Papua sudah siap untuk dialog, karena dengan itu dapat memutuskan mata rantai kekerasan, kegagalan, ketidakpecayaan masyarakat Papua terhadap pemerintah Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Pikiran tersebut dilemparkan Sekretaris Ekskutif FOKER LSM Papua, Septer Manufandu sebagai salah satu nara sumber pada forum tersebut. Menurut Septer, jika Dialog antara Jakarta dan Papua tidak dilangsungkan, maka wujud Indonesia di Papua akan semakin buram, bahkan di level regional dan internasional pun akan berdampak serius.

Sementara itu, Direktur KIPRA Papua, Markus Kayoi mengakui tidak ada jalan lain dari banyaknya masalah di tanah Papua, maka dialog Jakarta – Papua harus dilakukan.

Menyoal Dialog Jakarta – Papua yang akan digelar nantinya, menurut intelektual Papua,  Ir. Agus Rumansara harus diantisipasi secara bijak, karena dikuatirkan disusupi oleh kelompok opurtunis. Kelompok itu kata Agus Rumansara,  akan masuk untuk menjadi peserta dialog yang kemungkinan besar akan merusak tatanan yang telah dibangun jelang dialog dimaksud.

Itu sebabnya Agus Rumansara memandang penting untuk kedepannya di Papua saat ini harus punya kelompok think-thank, dan secara kontinyu membangun koalisi civil society dan siap untuk menyusun draft akademik.

Ir. Musa Sombuk dari Kamasan Institute dalam pandangan kritisnya pada evaluasi akir tahun 2011, bahwa di Papua kacau hari ini, lebih disebabkan oleh kekacauan hukum.

Wakil Ketua Majelis Rakyat Papua (MRP), Pdt. Hofny Simbiak menegaskan bahwa Papua hari ini terjadi gejolak dimana-mana karena tidak disentuh dengan baik. Pendekatan pembangunan lebih berorientasi pada proyek atau profit ketimbang pada rakyat.

Kamasan Intitute menggelar Kamasan Forum dalam rangka Refleksi akir tahun 2011 dengan beragam topik, mulai dari masalah hukum, HAM dan Konflik, politik dan pemerintahan, Korupsi dan penguatan masyarakat sipil di Tanah Papua. Acara yang berlangsung pukul 10.00-14.00 WIT dihadiri oleh sejumlah wartawan media cetak dan elektronik. (Jubi/Roberth Wanggai)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *