Forum Diskusi Panel Sepakat Gelar Liga Papua

JUBI – Kisruh PSSI yang berlarut-larut tak kunjung titik temu, membuat gerah masyarakat bola di Indonesia, termasuk di Tanah Papua. Bahkan disepakati akan digelar Liga Papua Tahun 2012, dengan mengusahakan sponsorhip tanpa melakukan Liga tandingan, sebagaimana tradisi PSSI selama ini.

Hal itu mencuat dalam diskusi panel antara  Aliansi Jurnalils Independen (AJI) Kota Jayapura bekerja sama dengan sekolah sepak bola (SSB) Emsyik Waena Jayapura yang berlangsung di sekretariat SSB Emsyik Waena Papua, Jumat, (30/12).Menurut Wakil Ketua Asosiasi Mantan Pemain Persipura (AMPP), Nico Dimo bahwa apa yang dilakukan dua intitusi (AJI dan Emsyik) adalah sejalan dengan ‘mimpi’ AMPP. “Apa yang dilakukan hari ini hari ini adalah sejalan dengan asosisasi mantan pemain Persipura,” tandas Nico Dimo ketika membuka diskusi yang dihadiri oleh sejumlah wartawan olahraga media cetak di Jayapura.   Bahkan dalam cita-cita yang lebih besar, AMPP kata Nico Dimo akan menggelar Turnamen sepakbola bertajuk ‘Suharto Cup’. Turnamen Soeharto Cup tersebut, sebagai bagian untuk mengenang sepak terjang Persipura yang telah mempertahankan Piala Soeharto (mantan Presiden RI) di tanah Papua. Maka sebagai mantan pemain Persipura, Nico Dimo akui bahwa pihaknya memiliki beban moril untuk digelar kembali, tentunya pialanya akan dibuat dupiklat. “Konteksnya duplikat piala presiden, karena piala ini sudah mati di Papua.” Wakil Ketua Majelis Rakyat Papua (MRP), Pdt. Hofny Simbiak yang hadir pada forum itu, mengakui bahwa sepakbola di tanah Papua identik dengan harga diri orang Papua. Bahkan dirinya menjamin, MRP bisa saja melahirkan Peraturan Daerah Kusus (Perdasus) tentang sepakbola Papua yang memungkinkan sepakbola di Papua bisa berkiblat ke zona Oceania. “Kita bisa bikin, kita punya kewenangan,” tandas mantan Pengurus Perseman 15 tahun itu sembari mengatakan format yang paling brilian adalah cita-cita untuk menggelar Melanesia Cup. Format itu kata Simbiak, mengusung format yang selama ini digunakan pada format Arafura Game. Dengan menggelar Melanesia Cup kata Simbiak akan melibatkan Provinsi Maluku, Nusa Tenggara Timur, dan Negara tetangga Timur Leste, karena mereka adalah bagian dari rumpun Melanesia. “Kita bisa buat itu. Kita bisa main di Oceania. Ini otonomi kusus, ada peluang untuk itu,” tandas Simbiak penuh optimis. Di tempat yang sama, Redaktur SKH Bintang Papua, Roky Bebena optimis bahwa liga Papua bakalan dihelat, tidak akan ketinggalan pamornya, bahkan melebihi Liga di Indonesia. “Saya optimis kalau Liga Papua akan digelar, tidak beda ramenya dengan yang ada di Indonesia,” tandas Bebena.  Wartawan Tempo.com, Cunding Levi bahkan melihat dari sisi media, akan sangat diuntungkan jika Liga Papua jadi digelar. “Media sangat diuntungkan apabila liga Papua digelar,” tandasnya.

Pascalis Keagop, Redaktur Tabloid Suara Perempuan Papua menilai, konflik PSSI harus menjadi kebangkitan sepakbola Papua. Direktur SSB Emsyk, Petrus Beny Pepuho menawarkan desain liga Papua dalam tiga kategori tanpa mengganggu jadwal dan kompetisi PSSI. Masing-masing Liga Papua yang ditawarkan Pepuho, Liga Papua Usia 21 Tahun, Usia 18 Tahun dan 16 Tahun. Liga-liga itu kata Pepuho akan dilihat dengan jadwal PSSI yang seluruh pelaksanaannya diluar jadwal PSSI. Bento Madubun Redaktur SKH Bintang Papua justru pesimis tetapi juga optimis akan wacana digelarnya Liga Papua. Disatu sisi, adik kandung Ritham Madubun ini setuju dengan  digelarnya Liga Papua, namun pada pihak yang lain, dia mengingatkan bahwa Liga Papua yang perhelatannya berada dalam bayang-bayang otonomi kusus, tanpa mempedulikan PSSI,  tentu akan berhadapan dengan regulasi dari sepakbola dunia yang bernama FIFA. Namun demikian, dari diskusi panel yang digelar itu, forum diskusi bersepakat untuk tetap dilaksanakan, dengan mencari sponsor yang kredibel dalam rangka memajukan sepakbola Papua. (JUBI/Roberth Wanggai)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *