Mesak Manibor Utamakan Penerangan, Komunikasi, Jalan dan RS

JUBI — Bupati Kabupaten Sarmi, Mesak Manibor yang baru saja dilantik, Rabu (28/12) lalu mengungkapkan yang menjadi fokus utamnya dalam program kerja 100 hari kedepan adalah memenuhi kebutuhan masyarakat yang mendesak seperti penerengan, komunikasi dan juga Rumah Sakit (RS).

“Program akan kita sesuaikan dengan yang kita sampaikan saat kampanye. Pertama, menjawab kebutuhan masyarakat yang mendesak yakni, penerangan. Karena sudah ada 260 rumah sehat yang dibangun di Sarmi, namun belum dilengkapai dengan penerang. Sebab itu dalam rangkan 100 hari kerja, ini akan menjadi prioritas untuk memberi penerang kepada masyarakat yang menempati rumah sehat itu,” kata Mesak Manibor, Kamis (29/12).

Dikatakannya, Pemkab Sarmi akan mencoba menggunakan tenaga diesel dalam memberikan fasilitas penerangan kepada masyarakat Sarmi.  Ini dilakukan agar penerangan tidak hanya digunakan masyakat untuk kebutuhan rumah tangga semata, namun juga untuk usaha lainnya. “Jadi masyaralat tidak hanya menggunakan listrik untuk penerangan semata, namun juga untuk industri lain,” ujarnya.

Selain itu Pemkab Sarmi juga akan membangun sarana komunikasi. Mengingat di Kabupaten Sarmi sudah banyak masyarakat yang menggunakan HP, namun saat berada di daerah mereka hanya menggunakan itu untuk mendengar musik dan mengambil gambar. “Jadi kami dalam waktu dekat akan mencoba membangun pemancar di berbagai distrik,” ucapnya,

Menurutnya, program yang tak kalah pentingnya adalah menyelesaikan program pembangunan jalan dan jembatan tans Sarmi-Jayapura. “Yang sangat mendasar adalah menyelesaikan pembangunan untuk pembangunan jalan dan jembatan,” terangnya.

Untuk Rumah Sakit Komunitas (RS Komuitas) dana pada tahun pertama akan menggunakan dana APBN 2012. Lalu dilanjutkan tahun kedua dengan 75 persen. Dan memasuki tahun ketiga akan dibiayai dari APBD Kabupaten Sarmi. Namun belum diketahui besarnya dana untuk proyek ini.

“Tahun ini kita akan mulai dengan rumah sakit bergerak, pembangunan rumah sakit tersebut pada tahun pertama dibiayai oleh dana APBN sebesar 100 persen dan pada tahun kedua 75 persen. Namun tahun ketiga dibiayai APBD Kabupaten Sarmi. Saya kurang tahu berapa dana untuk pembangunan rumah sakit itu, namun kemungkin pasti mencapai miliaran rupiah. Tapi ini demi kepentingan masyarakat agar tidak lagi melakukan rujukan ke Ibu Kota Provinsi. Belajar dari pengalaman yang ada selama ini masyarakat yang melakukan rujukan ke Jayapura selalu meninggal dalam perjalanan karena jauhnya jarak yang harus ditempuh,” paparnya.

Ia menjelaskan, Pemkab Sarmi akan mencoba membangun sebuah rumah sakit tipe C terlebih dahulu sebagai dasar.” Paling tidak kita meletakkan dasar itu, kemudian berubah statusnya. Ini kita harapkan ini bisa meminimalisir angka kematian warga akibat terlambatnya pertolongan medis karena jarak yang tempuh cukup jauh ke kota Provinsi,” tandas Mesak Manibor.

Sementara itu, Koordinator Dewan Kesehatan Papua dan Papua Barat Kementerian Kesehatan, Donald Heipon mengatakan, selain Kabupaten Sarmi proyek RS komuitas dilakukan pada daerah-daerah yang ada di Papua Barat, “Rumah Sakit komunitas merupakan cikal bakal dari Rumah Sakit daerah yang bisa menampung 70 sampai 80 pasien. Dan memiliki 4 Tenaga dokter spesialis yakni spesialis kandungan, anak, penyakit dalam dan bedah,” kata Donald Heipon. (Jubi/Arjuna)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *