Masuri : UU Pendidikan Ancam Guru

JUBI Ketua komisi II Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Kepulauan Yapen, Papua, Marthen Masuri menilai UU pendidikan baru yakni  seorang guru dan dosen  harus memiliki standar pendidikan minimal berijazah sarjana mengancam para guru di tingkat SD hingga SMA/SMK. Peraturan ini dinilai mengancam lantaran para guru saat ini berlomba-lomba untuk melanjutkan studi ke perguruan tinggi di banding mengajar.

“Dengan adanya UU baru ini, para guru harus berlomba-lomba untuk kuliah. Mereka (para guru) meninggalkan sekolah, tidak menjalankan tugasnya,” ujar Marthen saat di wawancarai tabloidjubi.com di ruang kerjanya, Senin (27/2). Dia mengatakan, saat ini kebanyakan para guru melanjutkan studinya ke perguruan tinggi. Mereka meninggalkan sekolah.
 
Tindakan itu mengakibatkan kekurangan tenaga guru di setiap sekolah terjadi di sejumlah kampung yang ada. Seharusnya, hal ini tidak boleh terjadi lantaran para siswa bakal selalu menjadi korban. “Harusnya hal ini tidak boleh terjadi. Karena, nanti para-para siswa di masing-masing sekolah yang jadi korban,” ujarnya lagi. 
Guru tak bisa di persalahkan lantaran peraturan ini demikian. Karena, peraturan tersebut secara tidak langsung memaksa dirinya untuk memperbaiki studinya. “Jelas guru akan memilih untuk memperbaiki masa depan. Lantaran, saat ini banyak guru belum berijazah sarjana. Banyak diantaranya lulusan Pendidikan Guru  Sekolah Dasar (PGSD), lulusan SMA/SMK dan sederajat lainnya.
 
Jika guru tak melanjutkan studinya ke perguruan tinggi guna mendapat ijazah maka jelas tak bisa di sertifikasi. “Kalau tidak punya ijazah sarjana, jelas tidak bisa ikut sertifikasi guru. Kalau begini jelas nasibnya kedepan mau bagaimana,” tutur Marthen. Dia menambahkan, di kuatirkan, kedepan masalah membaca, menulis dan menghitung (3M) bertambah. Beberapa tahun kedepan 3 M berpeluang menimpa siswa-siswi di sejumlah kampung. Kekurangan guru di setiap sekolah juga bakal meningkat tajam.
 
Sebelumnya, Samuel Merani, seorang guru SD Inpres Yapanani mengatakan tenaga guru yang mengajar di SD ini minim. Jumlah guru yang mengajar di sekolah tersebut sebanyak 7 orang guru. Satu diantaranya masih guru honor. Sementara guru tetap berjumlah 6 orang. Namun, hanya tiga  orang yang aktif mengajar. Tetapi, satu orang diantaranya sedang cuti. “Karena satu orang yang cuti jadi tinggal dua orang saja yang mengajar,” ujar Samuel.
Sebagian guru yang lain , kata dia, sibuk dengan urusannnya. Samuel mengaku, memang mereka datang ke sekolah tetapi tidak mengajar. “Mereka datang ke sekolah tapi tidak mengajar. Tiba berangkat,” ujarnya. Akhirnya, dirinya bersama rekannya, Tarim Jamaludin mengajar lebih dari satu kelas. Tarim terpaksa harus mengajar kelas V dan VI. Sementara, Samuel mengajar dari kelas I sampai IV. (Jubi/Musa Abubar)
 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *