Syafiuddin: Seni Tidak Hanya Terbatas Pada Sebuah Materi

JUBI — Sekolah Tinggi Seni Papua (STSP), Jayapura hari ini, Rabu (29/2) mewisudah 14 winisuda di Gedung Aula Museum Expo Waena, Jayapura, Papua. pelaksanaan wisuda ini sendiri merupakan prosesi wisuda Angkatan II. Dalam sambutannya, Ketua STSP, Syafiuddin mengatakan, seni tidak hanya terbatas pada sebuah materi.

STSP secara resmi dibuka pada, 9 September 2003 oleh Pejabat Gubernur Papua saat itu, J. P. Salossa melalui ijin operasional Menteri Pendidikan Nasional dengan SK No. 67/D/O/2003 tertanggal 10 Juni 2003. STSP Jayapura membuka 2 program studi; yakni Program Studi Seni Rupa Murni untuk jenjang S1 yang terbagi atas 2 minat utama yaitu Seni Lukis dan Seni Patung; dan Program Studi Kriya Seni untuk jenjang DIII meliputi minat utama Kriya Kayu dan Kriya Tekstil.

“Suatu kebanggan yang patut disyukuri bersama, bahwasanya Wisuda Angkatan I yang dilaksanakan pada Tanggal 1 Mei 2009 lalu telah berhasil meluluskan 14 alumni pertama yang sebagian besar telah diserap dan telah mengabdi, baik untuk tenaga pendidik (guru seni), Staff dan Pegawai Dinas Pariwisata dan Kebudayaan di beberapa kabupaten/kota di Papua serta beberapa yang membuka usaha mandiri atau mendedikasikan diri sebagai seniman,” demikian kata Ketua STSP dalam sambutannya.

STSP merupakan satu-satunya Perguruan Tinggi atau Lembaga Pendidikan Tinggi di Papua yang berbasis pengembangan seni dan budaya.

Dalam sambutannya, Ketua STSP mengatakan, wisuda kali ini diikuti 14 orang winisuda yang terdiri dari 11 orang untuk jenjang S1 dan 3 orang untuk jenjang DIII. Menurutnya, memang masih kurang animo masyarakat untuk investasi pendidikan pada bidang seni hal ini disebabkan persepsi yang senantiasa mengidentikan sekolah seni adalah sekolah khusus bagi yang memiliki bakat.

“Persepsi ini tentunya harus diluruskan karena esensi seni tidak hanya terbatas pada pola kerja (teknik maupun skill), seni merupakan karunia yang melekat pada diri manusia sejak lahir. Seni juga tidak hanya terbatas pada sebuah materi atau benda-benda seni,” demikian ungkap Syafiuddin.

Berdasarkan hal tersebut di atas, Ketua STSP ini menawarkan kesempatan bagi putra-putri terbaik Papua untuk mengeksplorasi satu tambang yang ‘melampaui emas’, tidak ternilai dan tidak akan pernah habis. Kekayaan alam sudah dipastikan memiliki keterbatasan dalam waktu eksploitasi namun eksplorasi dan eksploitasi terhadap kekayaan budaya jelas tidak akan pernah surut.

Di waktu dan tempat yang sama, Septer Manufandu, Sekretaris Eksekutif (SE) FOKER LSM Papua yang juga merupakan Ketua Badan Pengurus Yayasan Bina Seni Budaya Papua mengatakan, atas nama pribadi dan Badan Pengurus YBSB menyampaikan ucapan selamat dan sukses atas semua prestasi yang telah ditunjukkan sehingga kalian  berhasil menyelesaikan studi  secara baik dengan meraih gelar kesarjanaan dari  berbagai strata dan bidang keilmuan yang ada di lingkungan STSP.

“Terlebih penting lagi  wisuda ini  harus menjadi momentum keberhasilan yang diperoleh para Wisudawan/wati ini  sebagai  langkah awal  untuk mencapai tujuan selanjutnya, di mana tugas dan tantangan yang harus dihadapi dan diatasi itu lebih berat dan kompleks dibanding sebelumnya. Karena itu hendaknya disadari, bahwa keberhasilan yang dirayakan pada hari ini, tidak lain adalah awal dari perjalanan  panjang  saudara/i dalam mengarungi lautan karier  ke depan yang sarat dengan tantangan di Tanah Papua ini,” demikian kata Manufandu di hadapan civitas akademika STSP Jayapura.

Menurut Manufandu, Di era globalisasi dan keterbukaan seperti sekarang ini yang ditandai dengan perubahan-perubahan yang begitu cepat, dengan sendirinya menuntut kita untuk beradaptasi dengan perubahan-perubahan tersebut. Dalam dunia yang sarat dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan perkembangan teknologi, diperlukan sumber daya manusia kreatif, dinamis, yang handal baik dari segi kemampuan akademis, teknis, maupun keterampilan komunikasi interpersonal. Sumber daya manusia bercirikan seperti itulah  yang  kami yakini ada pada diri kalian semua, karena kalian sudah mampu melewati penggemblengan secara akademis maupun moral dan mental intelektualitas di kampus kebanggaan, STSP.  Bermodalkan itu, kalian harus memberi  kontribusi besar melalui karya gemilang dalam  berkiprah di dalam negeri maupun di manca negara melalui karya seni yang unik asli Papua. Bahkan bila memungkinkan kalian  harus mampu menciptakan lapangan pekerjaan dengan semangat kewirausahaan. Harapan seperti itulah yang tentunya menjadi dambaan kita semua dalam rangka membangun dan memajukan bangsa dan negara ini melalui Kebudayaan.

“Perlu kalian sadari dan waspadai, bahwa di lapangan nanti kalian akan menemui suatu kenyataan atau fakta bahwa antara teori-teori yang kalian dapatkan selama mengikuti pelajaran di bangku kuliah dengan kondisi pekerjaan di lapangan, kadangkala berbeda. Itu merupakan suatu  dinamika lapangan yang sulit dihindari. Apabila menghadapi hal seperti ini, kalian tidak usah bimbang ataupun ragu, tetapi kalian justru harus mampu beradaptasi dan kenyal di dalam menerapkan ilmu pengetahuan dalam dunia nyata di lapangan,” kata Manufandu.

SE FOKER LSM ini juga mengungkapkan harapannya bahwa dalam pengembangan STSP  ke depan, untuk peran serta para alumni agar senantiasa memberi kontribusi positif antara lain berupa masukan-masukan yang bermanfaat bagi perbaikan dan kesempurnaan penyelenggaraan pendidikan di STSP kita di masa mendatang. Karena itu dirinya menekankan kepada para winisuda agar  kalian tetap berhubungan dengan almamater tercinta ini dan ikut berperan serta untuk memberikan masukan, ide, saran, dan kritik yang membangun demi perkembangan STSP di masa mendatang.

Tokoh Pendidikan Terkemuka di Indonesia, Ki Hajar Dewantara mengatakan, keindahan seni itu tidaklah semata-mata sekedar indah dan harmoni, melainkan mengandung unsur moral, etika dan edukasi. (JUBI/Aprila Wayar)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *