Limbah Rumah Sakit Serui Dibuang ke TPA Kosiwo

JUBI —- Karena tidak memiliki inisinerator atau tempat pengolahan limbah di rumah sakit sehingga terpaksa, limbah padat medis di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Serui, Kabupaten Kepulauan Yapen, Papua, langsung dibuang ke  tempat pembuangan akhir (TPA)  sampah di Distrik Kosiwo.

Demikian disampaikan Steven Woof, seorang perawat di Puskemas Kosiwo saat diwawancarai tabloidjubi.com di Serui, Kamis (1/3). Menurut Woof, limbah rumah sakit yang di buang ke TPA karena belum rumah sakit memiliki tempat pengelolaan sampah. Aktivitas rumah sakit yang menjadi limbah masing-masing laoundry, beda ringan di ruang perawatan yang menangani pasien infeksi, dan diabetes. “Limbah dari aktivitas ini yang di buang ke TPA di Kosiwo,” ujar Woof.

Limbah rumah sakit yang di buang itu sudah menyebar sampai ke pantai yang letaknya tidak jauh dari lokasi TPA. Air laut di sekitar kawasan ini sudah di cemari limbah tersebut. Padahal, sekitar pantai itu berdiri sebuah pasar ikan milik warga  setempat. Pedagang di pasar ikan itu  selalu menimba air laut untuk menyiram hasil tangkapan ikan yang hendak di pasarkan. “Setiap hari masyarakat di sekitar pasar itu timbah air laut untuk siram ikan yang mereka jual. Padahal, air laut itu sudah tercemar dengan limbah rumah sakit,” ujarnya.

Rumah Sakit Umum Daerah Serui, Kabupaten Kepulauan Yapen, Papua, masih tipe –D. Karena masih tipe D, rumah sakit ini belum bisa merawat pasien secara langsung. Kebanyakan pasien yang di rawat adalah pasien yang dirujuk dari Puskesmas.

Selain pembuangan limbah rumah sakit, kata Steven, lalat biru di tempat pembuangan sampah di kawasan itu masih merajalela. Menurutnya, jika kendaraan yang melewati kawasan itu, baik roda dua maupun roda empat, penuh lalat. “Kalau ada kendaraan yang lewat di situ, lalat langsung hinggap sampai di tempat tujuan kendaraan itu pergi. Banyak lalat yang hinggap,” ungkapnya.

Sampai saat ini, pengelolaan sampah di kawasan itu tidak sempurna. Kebanyakan sampah kering di lokasi tersebut di bakar. “Pengelolaan sampah sampai sekarang belum sempurna. Sebagian sampah sampah kering di bakar,” ujarnya. Mirisnya lagi, jika tumpukan sampah sudah menggunung diatas bukit, lokasi penampung sampah, langsung di gusur. Dibawah bukit itu, berawa. Rawa itu menembus kali Arumarea. Kali ini sudah tercemar. 

Steven mengatakan, dari indentifitikasi yang di lakukan oleh dia, ada tiga jenis lalat yang menguasai kawasan itu. Masing-masing lalat biru, lalat buah, dan lalat hitam kecil. Dinas kebersihan dan tata kota memang rajin mengangkut sampah. Namun, sampah tersebut terus menggunung setiap saat lantaran pembuangan sampah dari kota Serui, terus menerus terjadi.

 Sejumlah warga yang berdomisli di Kosiwo, resa dengan situasi ini. Mereka masih mengeluhkan kondisi itu. Sudah berkali-kali keluhan itu disampikan ke pemerintah setempat. Namun, tak di gubris. “Menurut saya, kalau berhenti buang sampah dan limbah di situ, baru lalat bisa berkurang,” tutur Steven. 

Sadar Parlindungan Saragi, seorang warga yang diam di kota Serui mengaku, lalat tersebut tak hanya memadati Kosiwo. Namun, sudah menyebar hingga ke kota Serui. “Lalat ini tidak hanya padati Kosiwo, tapi sudah menyebar sampai ke  kota Serui,” kata Saragi. (Jubi/Musa Abubar) 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *