Dua Tapol Papua Sakit di LP Biak, Tunggu Izin Berobat

JUBI — Enos (Apot) Lokobal dan Jefrai Murib, dua tahanan politik (Tapol) Papua, kasus pembobolan gudang senjata Kodim  (Komando Distrik Militer) 1702 JWY Wamena,  4 April  2003, yang sementara ini mendekam di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Klas II B Biak mengaku, sampai saat ini mereka masoih menunggu izin berobat ke Jayapura. Kedua tahanan itu juga mengaku, masih sakit parah dalam penjara.

 

Jefrai Murib mengatakan, hingga kini ia dan rekannya masih menunggu informasi lebih lanjut dari sang pengacara hukum berserta Kementrian Hukum dan HAM tentang pemindahan mereka ke Jayapura untuk berobat. Lanjut dia, mereka berdua sudah menanyai pengacara hukum, Lativa Anum Siregar. Namun, jawaban yang didapat, informasi akan disampaikan setelah sidang Forkorus Cs berakhir. Selanjutnya, setelah pengurusan pengobatan Kimanus Wenda, rekan mereka. “Kami sudah tanya soal pengobatan di Jayapura ke ibu Anum selaku pengacara. Tapi, jawaban yang dapat katanya setelah sidang Forkorus Cs dan penuntasan pengobatan Kimanus,” ujar Jefrai saat di konfirmasi tabloidjubi.com via ponsel, Jumat (30/3).

Murib mengaku, masih sakit dalam penjara. Badan sebelah kanan Lokobal mati alias sudah tidak bisa di gerakan. Demikian juga dengan tangan sebelah kanannya juga tidak bisa di gerakan seperti biasanya. “Saya punya badan sebelah kanan sudah mati karena strok. Tangan kanan juga begitu. Mau jalan ke kamar mandi saja setengah mati sekali,” ungkapnya. Lanjut dia, tak hanya dirinya yang sakit, rekannya, Enos yang biasa di panggil Apot juga mengalami sakit yang sama.

Sementara itu, Apot Lokobal manandaskan kalau sampai saat ini mereka masih menunggu izin berobat di Jayapura. Kata dia, hanya Jefrai Murib yang mendapat izin berobat ke Jayapura. Sementara dirinya tak di izinkan. “Saya tidak dapat izin berobat ke Jayapura. Memang pengacara bilang urus saya lagi ke Jayapura berobat tapi saya tolak karena sakit tapi masih mendingan. Teman saya, Jefrai yang parah jadi harus berobat,” ujarnya.

Lokobal juga mengaku masih sakit. Penyakit yang dialaminya sama seperti yang di derita temannya, Jefrai Murib. Badan sebelah kanan Apot juga sudah tak bisa digerakan alias mati. Tangan kananya juga demikian. “Saya juga strok jadi badan sebelah kanan sudah mati tidak bisa bergerak. Tangan kanan juga sudah mati,” kata Lokobal. Ia menambahkan, hanya mereka berdua yang sakit. Sementara satu rekan mereka, Numbunggan Telenggen dalam keadaan sehat.  

Numbunggan Telenggen, Jefrai Murib dan Apot Lokobal di jarah aparat kepolisian setelah kasus pembobolan gudang senjata Kodim  1702 JWY Wamena, Papua,  4 April  2003. Tak hanya mereka,  kala itu sebanyak 12 orang warga juga ikut diseret korps berseragam cokelat ke Kantor Polisi. (Jubi/Musa)

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *