Empat Preman Rusak Truk Pedagang Asli Papua

JUBI —- Jumat (30/3), empat preman tak dikenal merusak truk milik mama-mama pedagang asli Papua di Jayapura. Keempat preman itu memukul bagian depan truk itu dengan kayu balok hingga penyot (peot). Kaca bagian depannya pecah.  Lantaran demikian, kendaraan roda empat yang setiap hari dipakai oleh mama-mama pedagang  untuk mengangkut barang dagangannya itu sudah tak bisa digunakan lagi

Hal ini dikemukakan koordinator Solidaritas Pedagang Asli Papua (SOLPAP) di Jayapura, Robert Djitmau saat di wawancarai tabloidjubi.com di Abepura, Sabtu (31/3). Menurut Robert, keempat preman tersebut sementara di pengaruhi minuman keras (miras) lalu masuk ke dalam pasar sementara yang di bangun oleh pemerintah Papua untuk mama-mama pedagang asli Papua di Jayapura.

Lanjut dia, ketika mereka (preman) berada di dalam pasar, ditegur oleh penjaga pasar, Frengky Warar. Frengky menegur empat preman ini secara baik. Namun, mereka tak menerima lalu satu diantaranya membawa kayu balok yang ada di dalam pasar lalu langsung mengayungkannya kea rah bagian depan truk. Akhirnya, truk bagian depan pecah sehingga tak bisa digunakan lagi oleh mama-mama pedagang asli Papua. Truk itu dirusak empat preman yang tidak dikenal itu pada Jumat (30/3) kemarin, sekitar pukul 11.00 WIT.

Padahal, kendaraan roda empat bantuan pemerintah kota Jayapura itu sangat dibutuhkan mama-mama pedagang pribumi Papua. Saban hari, mereka menggunakan kendaraan itu untuk mengangkut barang dagangnya ke pasar.  Dari kejadian itu, semalam, sekitar pukul 20.00 WIT, sejumlah mama-mama pedagang Papua menggelar rapat. Alhasil dari rapat tersebut, setiap malam pasar sementara yang digunakan oleh mereka akan digembok (dikunci) pada pukul 20.00 WIT.

Yuliana Pigai, salah satu mama pedagang asli Papua mengatakan mereka sepakat bahwa pasar akan di kunci setiap malam. Karena, tiap malam tempat dagangan mereka digunakan sebagai tempat tidur bagi para penenggak miras. “Setiap malam orang yang miras tidur dalam pasar ini. Mereka jadikan kami punya pasar sebagai rumah,” ujar Pigai.  Pigai berharap, dengan penertibaan itu, tempat jualan mereka aman. (Jubi/Musa)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *