KONI Papua Wajib Setor ke Kas Negara 150 Juta Dari Hasil GOR

JUBI – Penggunaan Gedung Olahraga (GOR) Cenderawasih APO Jayapura-Papua, yang banyak disoroti masyarakat, bahkan ekstrimnya, pengurus KONI dituding membisniskan gedung tersebut. Tudingan ini akhirnya diklarifikasi oleh Ketua Harian KONI Papua, Ir. H.Mackbon belum lama ini.

Menurut Mackbon, GOR tersebut setiap tahun dipatok oleh pemerintah daerah untuk disetor ke kas Negara sebesar Rp 150 juta.
“Satu sen pun kami tidak dapat. Ada uang kita setor bahkan ada temuan, kita yang bertanggungjawab,” ujar mantan Kepala Dinas Kependudukan dan Pemukiman Provinsi Papua itu. Namun lanjut dosen Universitas Papua (Unipa) Papua Barat itu, bahwa ada kesan yang kuat di masyarakat, bahwa pengurus KONI objekkan GOR.

Makbon mengharapkan masyarakat untuk melihat pengelolaan GOR itu dari aspek yang komprehensif dimana selain GOR sebagai tempat untuk olahraga, aspek atau fungsi sosialnya juga dikedepankan, dalam hal ini digunakan untuk sewa menyewa yang mendatangkan income bagi pendapatan asli daerah (PAD).

GOR, Stadion Mandala kata Makbon adalah asset Pemda Provinsi Papua yang mana statusnya disewakan untuk dapat uang, namun kata Makbon uang itu merupakan retribusi untuk disetor ke pemerintah daerah, karena sesuai aturan dalam sebuah peraturan daerah (Perda).

“Mandala (stadion) sekali pakai, 5 juta rupiah. Dan GOR untuk satu tahun KONI berkewajiban setor 150 juta ke kas Negara,” ujar Makbon.
Panjang lebar Mackbon mengutarakan di TC PON, juga pihaknya menggunakan kendaraan bus milik Pemda Provinsi Papua yang sebagian juga disewakan untuk antar jemput atlit dari dan ke tempat penampungan dan venue masing-masing cabang olahraga. Namun menjadi dilema karena bus-bus milik Pemda sesuai aturan, tidak boleh disewakan, karena tidak aturan atau Perda.

“Oleh karena itu kami (KONI) ambil inisiatif ke Sekda untuk dibebaskan dan ternyata dibebaskan. Namun yang menjadi kewajiban kami ke sopir untuk harga cape dan bahan bakar minyak (BBM),”imbuh Makbon.

TC PON Papua hingga kini dari laporan yang ada, masih sebagian cabang-cabang olahraga yang belum tersentuh oleh kendaraan untuk antar jemput atlit dan perlengkapan Training Centre (TC). Seperti yang diutarakan pelatih selam Papua, Thomas Supoyo dalam pertemuan baru-baru ini yang berlangsung di ruang rapat KONI Papua yang dipimpin oleh Ketua Harian KONI Papua, HE. Mackbon.

“Kami (cabang selam) kini butuh mobil pick up untuk angkut barang-barang, karena alat kita banyak dari tempat penampungan ke tempat latihan,” keluh Thomas Supoyo.

Ketua Tim Pengendali Pemusatan Latihan Provinsi (Puslatprov) KONI Papua, Drs. Ismail Rumbiak mengakui dari 18 cabang yang akan ikut di arena PON XVIII September mendatang di Riau, pihaknya kini sedang seleksi administrasi cabor, karena berapa cabang melebihi quota. Rumbiak merinci cabang sepakbola hanya 19 atlit yang harus diregistrasi, sementara atlitnya sebanyak 24. Cabor Voly, Basket dan Futsal masing-masing kini sebanyak 15, sementara dibatasi hanya 12 atlit. (JUBI/Roberth Wanggai)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *