Balai Arkeologi Jayapura Temukan Berbagai Materi Budaya Di Kaimana

JUBIBalai Arkeologi Jayapura berbagai materi budaya yang cukup bervariasi di Gua Karas yang terletak di Kampung Urisa, Distrik Arguni Bawah, Kabupaten Kaimana, Papua Barat.

Peneliti Balai Arkeologi Jayapura, Hari Suroto kepada JUBI, di Jayapura, Minggu (1/4), menjelaskan, Gua Karas merupakan gua alam yang terbentuk oleh pengangkatan daratan, gua ini  memiliki luas 22x 9 m.

“Secara fisik gua ini sangat potensial dimanfaatkan manusia prasejarah sebagai tempat tinggal dan beraktivitas, hal ini didukung oleh ruang gua yang luas, pencahayaan bagus, permukaan lantai rata dan kering, sirkulasi udaranyapun baik, dekat dengan sumber air,” jelasnya.

Dia mengatakan, keberadaan Gua Karas untuk pertama kalinya diketahui dari laporan tim Indonesia-Perancis yang tergabung dalam Ekspedisi Lengguru pada tahun 2010 yang mengungkapkan adanya temuan rangka manusia di Gua tersebut. Lanjutnya, berdasarkan informasi dari ekspedisi tersebut kemudian ditindaklanjuti oleh Balai Arkeologi Jayapura, dengan melakukan ekskavasi atau penggalian sistematis di gua tersebut pada 9 Maret 2012 hingga 20 Maret 2012.

Dia mengaku, ekskavasi dilakukan dengan menggali tiga kotak lubang yang masing-masing berukuran 1 x 1 meter. Dan Balai Arkeologi Jayapura berhasil menemukan materi budaya yang cukup bervariasi yaitu tulang manusia, gerabah, alat tulang, sisa-sisa makanan berupa cangkang moluska laut, cangkang moluska air tawar, tulang berbagai jenis fauna, biji tumbuhan, dan arang sisa pembakaran.

“Berdasarkan data arkeologi yang ditemukan di Gua Karas dapat memberi gambaran tentang aktivitas manusia prasejarah yang pernah berlangsung di Gua itu, pola mata pencaharian, pola konsumsi, lingkungan alam sekitar, pengolahan makanan, religi dan sistem penguburan,” ujarnya.

Menurut ia, manusia pendukung budaya Gua Karas pada masa lalu sangat tergantung dengan sumberdaya alam di sekitar, dimana mereka hidup berburu dan meramu. Hewan yang diburu dan dikonsumsi adalah kanguru, walabi, burung maleo, kelelawar, kus-kus, burung mambruk, ikan, kepiting, penyu, kerang air tawar dan kerang air laut.

Selain mengkonsumsi hewan buruan, lanjut Hari, mereka juga mengkonsumsi biji kenari, kelapa dan buah nipah. Selain itu mereka juga mengenal penguburan, yaitu dengan menaruh mayat dalam lubang galian kemudian seluruh bagian mayat ditutup dengan bongkahan batu, selanjutnya ditimbun dengan tanah. (JUBI/Alex)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *