Tiga Batu Untuk Satu Tungku

JUBI – Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Jayapura, Ir. Yan Piet Nerekouw menyambut positif usulan Ketua Klasis GKI Jayapura, Pdt. Willem Itar yang mengkritisi sebutan tiga tungku yang dikoptasi sebagai sebuah bentuk kerjasama diantara adat, gereja dan pemerintah.

Sebutan tiga  tungku sebagaimana kritik Pdt. Itar adalah keliru, karena jika disebut tiga tungku, akan dimaknai setiap lembaga adat maupun gereja dan pemerintah akan berjalan sendiri-sendiri.

“Kalau disebut tiga batu satu tungku, ini baru ada keseimbangan dimana adat, pemerintah dan gereja bersama mengerjakan sebuah pekerjaan,” ujar Pdt. Willem Itar pada momentum perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Pekabaran Injil (PI) ke 101 di Kampung Nafri Kota Jayapura, Minggu, (1/4).

Kalau penyebutan tiga tungku ujar Itar, akan dimaknai setiap institusi itu ‘memasak’ sendiri bagiannya sendiri, tanpa melibatkan lembaga lain. Jika 3 batu untuk 1 tungku, itu yang menurut Itar, dimaknai sebagai sebuah bentuk kerjasama yang harmonis.

Menanggapi hal itu, Sekda Kota Jayapura, Ir. YP. Nerokouw mengapresiasikan usulan dari pikiran Pdt. Itar. Karena terkadang salah jalan dalam penerapan tiga tungku.
“Apa yang disampaikan Ketua Klasis (Pdt. Willem Itar) menjadi catatan penting dari anak-anak Port Numbay,” ujar Nerokouw. (JUBI/Roberth Wanggai)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *