1 Mei……

1 Mei memiliki arti tersendiri bagi berbagai kelompok umat manusia. 1859, tepat ditanggal 1 Mei Pemerintah Hindia Belanda membuka 16 pelabuhan, diantaranya Sampit. 1 Meir 1886, Sekitar 400.000 buruh di Amerika Serikat mengadakan demonstrasi besar-besaran. Di tahun 1890, Hari Buruh Internasional pertama kali diperingati oleh kaum buruh di berbagai negara. Lima Belas tahun kemudian (1905), Bahan radioaktif radium diuji sebagai obat kanker di New York. Lalu, menjelang PD I tahun 1941, Citizen Kane, salah satu film yang dianggap terbaik sepanjang masa, mulai diputar. Jerman Barat memperkenalkan sistem 5 (lima) hari kerja dalam seminggu tepat ditanggal 1 Mei 1959. 1961, Fidel Castro mengumumkan di Kuba tak ada lagi pemilu. Berlanjut pada 1963, Irian Barat menjadi bagian Indonesia melalui penyerahan oleh UNTEA, berdasarkan Perjanjian New York 1962. Hingga setahun yang lalu, proses Beatifikasi Paus Yohanes Paulus II di Vatikan oleh Paus Benediktus XVI dilangsungkan.

Untuk orang Papua, dari sekian banyak peristiwa yang terjadi tanggal 1 Mei ini, Perjanjian New York adalah peristiwa yang paling lekat. Di tahun 1963, secara “resmi” Amerika Serikat memainkan triknya untuk “menggeser” Belanda sebagai “pemilik” Papua dan menggantikannya dengan Indonesia. Namun Belanda yang tak rela dengan trik AS ini terus berupaya mempertahankan kekuasaannya di Papua dengan menabur janji pada Rakyat Papua di masa itu. Hingga 6 tahun kemudian, pasukan terjun payung Indonesia mendarat di Papua dan mengambil alih kekuasaan dari Belanda.

Jika bagi AS peristiwa ini mengakhiri kekhawatiran mereka terhadap blok Komunis, bagi orang Papua peristiwa ini meninggalkan luka yang tak pernah akan sembuh. Jika bagi Indonesia peristiwa ini disebut sebagai kembalinya Papua ke pangkuan NKRI, namun bagi orang Papua peristiwa ini justru dianggap sebagai awal aneksasi dan kolonialisme Indonesia di Papua. Ya, sejarah selalu melahirkan kontradiksi bagi masing-masing pelakunya. Yang bisa mengendalikan sejarah akan bertindak sebagai pemenang dan yang terkapar oleh sejarah akan menjadi pecundang. Itulah sebabnya ada ungkapan “Sejarah hanya milik penguasa saja.” Terbukti hingga hari ini. Sejarah 1 Mei 1963 dan 1969, masih milik Indonesia. Yang menyebabkan mata dunia “tertutup” atas segala ekses yang terjadi setelahnya.

Mata dunia boleh “buta”, tapi mata orang Papua tak akan buta pada sejarah bangsanya ini. Kita hanya perlu membuat mereka yang “buta” ini mendengarkan kita agar membuka matanya. Karena mereka bukan buta sejak lahir, apalagi tuli dan bisu! ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *