Gagal Temui ‘Dokter’ Demo 18 Cabor PON Papua Ancam Akan Kembali

Jayapura, (30/4) – Demo  damai 18 cabang olahraga (cabor) Puslatprov TC PON Papua ke Kantor Gubernur Papua, Senin, (30/4), benar-benar terwujud. Kurang lebih 200 atlit, pelatih, manajer, dan pengurus masing-masing cabor, melakukan orasi di kantor Gubernur Papua. Mereka meminta kejelasan eksekutif dalam hal ini Gubernur dalam pencairan dana TC PON Papua. Bahkan mereka mengancam akan kembali berdemo, jika tuntuan mereka belum dipenuhi.

“Kami datang untuk temui dokter, bukan assisten dokter atau yang lain,” bilang Linda Wabiser pelatih tinju putri PON Papua. Statemen Linda Wabiser itu, karena mereka kecewa justru yang melayani pendemo adalah asisten II Setda Provinsi Papua, Drs. Elia Laupaty.
Elia Laupaty sendiri dihadapan pendemo menegaskan kalau dana PON dikelola oleh kepala Badan Keuangan dan Aset Daerah. Matias Rumkorem perwakilan dari PASI Papua mengharapkan adanya kepastian dari pemerintah daerah, apakah mereka layak ikut PON atau tidak. “Saya akan teruskan masalah ini ke Gubernur,” janji Laupaty dihadapan pendemo.
Pendemo mencak-mencak kalau kepala BKAD, Hatari tidak tau malu menahan dana milik masyarakat Papua. Salah satu perwakilan pembicara dari pelatih dan asisten pelatih dan atlit PON XVIII Papua Carol Renwarin menegaskan bahwa sudah 4 bulan mereka sengsara akibat perlengkapan TC tidak diakomodir.
Nico Dimo perwakilan dari cabang sepakbola mengakui bahwa kehadiran mereka bukan sebagai pengemis. “Kami datang bukan sebagai pengemis,” ungkap Nico Dimo. Upaya mencari ‘dokter’ pun berlanjut ke Kantor Badan Keuangan dan Asset Daerah (BKAD) yang berjarak 30 meter di halaman utama kantor Gubernur.
‘Dokter’ yang dimaksud adalah Hatari kepala BKAD Provinsi Papua. Upaya pencarian sang ‘dokter’ pun sia-sia, karena yang bersangkutan sedang diluar Papua. Pendemo pun dilayani oleh Kepala Bidang Anggaran Daerah Bawahan (ADB), Istiyosoh melalui 3 perwakilannya, masing-masing, Carol Renwarin (tinju), Nico Ramandey (bola) dan Regina Muabuay (basket).
“Kami sudah anggarkan sebesar 95 milyar rupiah untuk PON melalui KONI, namun KONI belum ada surat untuk kami,” bilang Istiyosoh. Menanggapi hal itu, Carol Renwarin mengakui kalau belum adanya surat dari KONI ke keuangan, karena KONI ragu, sebab kisaran angka yang pernah diketok oleh DPRP Rp 101 milyar berbeda dengan yang dirasionalkan oleh eksekutif 95 milyar rupiah.
“Kita tinggal tunggu surat. Uang di kas tinggal dipindah ke rekening KONI,” ujar Istiyosoh. Usai pertemuan, perwakilan pendemo menemui para pendemo di depan kantor badan keuangan dan aset daerah provinsi Papua. Kendati awalnya berang, namun berdasarkan keterangan yang diberikan oleh Carol Renwarin, pendemo akirnya tenang dan berbalik ke kantor KONI. Mereka berjanji akan datang pada minggu depan, jika tuntutan mereka tidak ditindaklanjuti oleh eksekutif.
Sebagaimana keputusan bersama seluruh pelatih dan atlit TC PON Papua itu, antara lain akan menghentikan latihan pada hari Senin, (30/4). Jika belum ada jawaban tentang dana PON XVIII, mereka akan terus demo damai minggu depan selain ke kantor Gubernur dan DPRP.
“Kami demo demi tanah Papua, bukan untuk siapa-siapa,” bilang Carol Renwarin. Upaya demo damai sebenarnya sudah dirancang sejak, Minggu, (29/4) di Hotel Mahkota dengan agenda bahwa TC PON XVIII Papua sudah berjalan selama 4 bulan, akan tetapi perlengkapan umum dan khusus hingga kini masih mengambang.
“Yang buat kami sakit hati, karena ada pejabat di Gubernur mengatakan Papua di ajang PON Riau hanya berpartisipasi,” ungkap Carol Renwarin.
Dari pantauan tabloidjubi.com, ada 4 spanduk yang bertuliskan “Kami Anak Papua Bertanya Kapan Ikut PON XVIII 2012 Riau Atau Trada”, “Olahraga Juga Termasuk Salah Satu Unsur Pembangunan Karakter Bangsa Seutuhnya Termasuk Papua”, Kami Anak Papua Bertekad Untuk Membayar Malu Gagal Prestasi Pada PON Yang lalu”, “Harkat dan Martabat Papua Diangkat dan Dikenal dan Tetap Dikenang Melalui Olahraga dan Seni.” (JUBI/Roberth Wanggai)
 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *