Masalah HIV/AIDS Tanggungjawab Bersama

Jayapura, (30/4)Orang yang terinfeksi virus HIV/AIDS sering mendapat stigma yang negative dari masyarakat, namun sesungguhnya masalah ini harus menjadi tanggung jawab semua pihak, selain pihak-pihak yang berkompenten.

 
Hal ini disampaikan Robby Tompudu dari Perhimpunan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI), sebab dirinya menilai selama ini masih saja banyak stigma negatif bagi pekerja seks, kelompok waria dan lembaga swadaya masyarakat peduli HIV/AIDS.
“Pada dasarnya program yang ada tidak melihat HIV/AIDS pada individu atau kelompok waria, pekerja seks atau LSM peduli yang dikategorikan  kelompok yang berperilaku berisiko tinggi, tetapi masalah sebenarnya adalah di sekitar kita,” ujar Robby Tompudu,  di Abepura, Senin (30/4).
 
Dirinya mengakui, masih banyak diskriminasi yang membuat posisi ‘mereka’ serba sulit, seperti anggapan pekerja seks adalah pekerjaan yang paling hina, padahal pekerja seks adalah profesi. Yang membedakan adalah jasa apa yang dia tawarkan, sehingga jangan ada yang mengatakan ini pekerjaan yang tidak bermartabat, karena tidak ada perempuan yang lahir dan cita-cita jadi pekerja seks.
“Namun, karena kondisi sosial dan dirinya tidak punya pilihan. Sebab itu cara pandang sering menjadi diskriminasi dan stigma yang kurang baik, yang harus dihilangkan,” nilainya.
 
Selain itu, Robby mengatakan adanya faktor –faktor determinan juga mempengaruhi cara pandang masyarakat. Misalnya perlindungan perempuan selama ini hanya sebatas perlindungan terhadap Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) saja. Namun kalau ada laporan biasanya jarang ditindaklanjuti.
 
Dirinya menuturkan yang penting saat ini adalah ketersediaan layanan dan akses yang baik oleh pemerintah, sehingga komunitas yang terstigma ini bisa terlibat dalam berbagai kegiatan untuk mengangkat potensi dan kemampuan yang ada.
“Harus ada kebijakan yang berpihak tanpa diskriminasi, karena persoalan layanan kepada komunitas adalah soal hak dan kewajiban dan pemerintah punya kewajiban untuk hal tersebut,” tuturnya.
 
Dalam konteks keluarga, Robby menegaskan keluarga adalah posisi yang beresiko juga. Misalnya di Kabupaten Jayapura, kasus HIV/AIDS  masih cukup tinggi di tingkat ibu rumah tangga.
“Tentu menjadi pertanyaan kenapa ibu-ibu bisa kena padahal mereka hanya di dapur dan di rumah saja. Tentu kembali kepada lingkungan yang sudah tidak kondusif,” nilainya.
 
Menurutnya, yang terpenting saat ini adalah pemberian informasi kepada kalangan remaja yang masih sangat rentan terhadap bahaya penyakit HIV/AIDS.
“Kadang-kadang kita menjadi kontra dengan informasi HIV/AIDS. Namun dalam hal ini komponen adat, agama dan pemerintah harus lebih berperan lagi agar informasi dan kesadaran akan bahaya HIV/AIDS dapat dicegah,” harapnya.
 
Sebelumnya, Program Manager Yayasan Harapan Ibu (YHI), Bernadet Iwo, menjelaskan bahwa dari temuan di lapangan, Jumlah WPSL di wilayah Distrik Sentani Kota sebanyak 179 orang, Distrik Jayapura Utara 134 orang, Ditrik Jayapura Selatan 114 orang, Distrik Abepura 75 orang, Heram 31 orang, Sentani Timur 20 orang.

“Sedangkan Wanita Pekerja Seks Tidak Lansung (WPSTL) terbanyak di Distrik Jayapura Selatan, 420 orang, Distrik Abepura, 108 orang, distrik Heram, 85 orang dan Distrik Jayapura Utara, 23 orang,” papar Bernadet Iwo.  (Jubi/Eveerth Joumilena)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *